MANADO, Radarmanadoonline.com- Tiga materi pembekalan disampaikan kepada 22 finalis Pemilihan Nyong-Nona Manado (PNNM) 2025 pada hari kedua pra-karantina yang berlangsung di Aula BKPDSM, kompleks Kantor Wali Kota Manado (eks Gedung DPRD Kota Manado), Tikala, Selasa (24/6/2025). Materi pertama mengangkat tema “Pentingnya Peranan Pemuda dalam Mendukung Kemajuan dan Kesejahteraan Kota Manado” yang disampaikan oleh Paul Moningka. Materi kedua bertajuk “Peran Nyong-Nona dalam Pariwisata Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan” oleh Dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr. Eng. Herawaty Riogilang, ST, MEnvEngSc, sedangkan materi ketiga Psikotes dibawakan Psikolog Eva Silia Kaumbur, M.Psi, (dari Integra Mental Health Hub). Dalam pemaparannya, Dr. Eng. Herawaty Riogilang, ST, MEnvEngSc—yang juga Nona Manado 1992—mengawali dengan pertanyaan reflektif: “Mengapa pariwisata berkelanjutan?” dia menjelaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan, melestarikan budaya, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.



Nona Hera, sapaan akrabnya, merupakan wakil Provinsi Sulawesi Utara dalam ajang nasional dan berhasil menyandang gelar Putri Budaya, Pariwisata, dan Lingkungan Indonesia 1993, memaparkan bahwa prinsip dasar pariwisata berkelanjutan meliputi konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya. Ia menekankan pentingnya penerapan model Pentahelix, yakni kolaborasi antara lima unsur utama: pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media. Dalam konteks Promosi Destinasi Hijau, ia menyoroti beberapa lokasi unggulan seperti kawasan Konservasi Laut Bunaken, Suaka Margasatwa Tangkoko, Desa Wisata Likupang, dan Danau Linow. Sebagai alumnus Environmental Engineering Science dari University of New South Wales, Sydney, Australia, serta Urban and Environmental Engineering dari Universitas Kyushu, Fukuoka, Jepang, ia juga memperkenalkan konsep Tour Tematik, yakni paket wisata yang mencakup aktivitas menyelam dan penanaman terumbu karang. Selain itu, terdapat Event Hijau seperti Coral Planting dan Eco Camp bersama wisatawan Dia menambahkan bahwa Taman Laut Bunaken merupakan habitat ratusan jenis karang dan spesies ikan, serta memiliki zona konservasi penting. Suaka Margasatwa Tangkoko menjadi rumah bagi satwa endemik seperti Tarsius dan Yaki, sekaligus menawarkan wisata edukatif bertema konservasi. Tak hanya itu, juga ditampilkan Infografis Biodiversitas yang menggambarkan flora dan fauna unik di kawasan Manado. Sebagai penerima Certification of International Environmental Leader in Asia Pacific–Advanced Course yang didanai oleh Ministry of Higher Education of Japan dan Research Institute of Asian Environment, Japan, ia menegaskan bahwa ekowisata memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Lebih lanjut, sebagai peraih Certification of International Environmental Leader in Asia Pacific–Master Course, ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi dunia pariwisata saat ini, seperti polusi sampah plastik, over-tourism, serta kurangnya edukasi lingkungan. Ia menawarkan solusi strategis melalui pendekatan edukasi, regulasi, dan kampanye berbasis komunitas. Dalam kapasitasnya sebagai pemegang Sertifikat Keahlian Ahli Teknik Lingkungan–Madya dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi, ia menekankan bahwa peran Nyong dan Nona Manado sebagai duta budaya dan pariwisata sangat strategis. Mereka merupakan generasi muda inspiratif yang dapat menjadi edukator, promotor, sekaligus influencer dalam mengkampanyekan pariwisata ramah lingkungan. Menurut Harapan 1 Noni Sulut 1992 dan Putri Ayu Sulut 1993 ini, sosok ideal duta pariwisata haruslah cerdas, komunikatif, serta memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi. Dia juga mengangkat inisiatif Kampanye Bebas Plastik, seperti aksi bersih pantai di Malalayang, Bunaken, dan Likupang. Kemudian, konsep Eco Tourism diperkuat melalui promosi desa wisata dan taman konservasi berbasis komunitas—sebuah contoh nyata pengembangan pariwisata hijau yang berbasis lokal. Dalam hal mobilitas, ia mengampanyekan penggunaan transportasi hijau seperti berjalan kaki, bersepeda, dan memanfaatkan transportasi umum. Gaya hidup ramah lingkungan juga disuarakan, antara lain dengan penggunaan botol isi ulang, tas belanja kain, serta wadah makan yang dapat digunakan kembali sebagai pengganti barang sekali pakai. “Nyong Nona Manado adalah garda terdepan dalam promosi pariwisata ramah lingkungan. Komitmen bersama sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian alam, budaya, dan masa depan pariwisata kita,” tutup Nona Hera—yang juga dikenal sebagai Putri Cempaka 1991, Wakil I Noni Kampus Sulut 1991, serta Putri Citra Busana Terbaik 1991—dalam akhir presentasinya.(axm)
