
MANADO, Radarmanadoonline.com-Bangsa Indonesia akan kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober nanti. Momen bersejarah itu, mengingatkan pada semangat pemuda dalam mempersatukan bangsa. Terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda, khususnya di Sulawesi Utara (Sulut), sejumlah figur sukses dalam berkarir sekaligus sebagai tokoh pemuda yang memberikan inspirasi dan visi untuk kemajuan Sulut, dan tentunya Indonesia. Diantara mereka ada yang pernah berkompetisi sekaligus menorehkan prestasi di ajang duta daerah dan wisata, semisal Nyong-Nona Manado, dan Nyong-Noni Sulut. Sebut saja, Nyong Manado 1988 dan Nyong Sulut 1988, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E, Nona Manado 2003, Noni Sulut 2003 dr Verna Gladies Merry Inkiriwang, serta Nyong Manado 1997 dan Nyong Sulut 1999 Dr. Ir. Frangky J. Paat, S.P M.Si. Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E, saat ini menjabat Gubernur Akademi Militer (Akmil). Sebelumnya, Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E, yang juga Paskibraka Nasional 1987, sebagai Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lembaga Ketahanan Nasional (Tajar Lemhannas) RI. Dr Verna Gladies Merry Inkiriwang, yang meraih runner up I Miss Indonesia 2007, adalah Bupati Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Dr. Ir. Frangky J. Paat, S.P, M.Si, saat ini sebagai Dosen Fakultas Pertanian dan Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Dr. Ir. Frangky J. Paat, S.P, M.Si, dan Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E, merupakan alumnus Lemhannas RI. Diketahui, tidak semua orang bisa mengikuti Lemhannas. Sebab, memiliki sejumlah persyaratan dan seleksi yang ketat, termasuk tes akademik, psikologi, dan wawancara. Selain itu, harus memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani. Dr. Ir. Frangky J. Paat, S.P, M.Si, juga lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), dan peraih Silver Medal dan Bronze Medal dari 2 produk yang dilombakan di Product Innovation Competition, di Maejo University Chiangmai, Thailand 2023. Kepada Media ini, Dr. Ir. Frangky J. Paat, S.P, M.Si, menerangkan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa “Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat itu, kata Dr Frangky, mengandung makna mendalam jika diresapi. Betapa pemuda Indonesia itu sangat kuat dan luar biasa perannya. Oleh karena itu, untuk memupuk rasa nasionalisme maka generasi muda wajib hukumnya mengetahui sejarah perjuangan bangsa,,” kata Dr Frangky. Dr Frangky, mengungkapkan para founding father masa silam bersumpah untuk mengakui satu tanah tumpah darah, yaitu Indonesia, satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi satu bahasa, bahasa Indonesia, mereka bersedia membatasi diri demi persatuan bangsa (Suseno, M. 2008). Dikatakan peraih peringkat 2 (dua) SINTA Score over all (3.560 poin) dari 1.362 dosen peneliti Universitas Sam Ratulangi, generasi muda memiliki tanggung jawab moral yang tinggi. Betapa masa depan bangsa ada di pundaknya. Upaya melawan kebodohan dengan meningkatkan kompetensi literasi harus terus digalakkan. “Jadi, harus selalu ditumbuhkan semangat yang membara di dalam dada, untuk menumbuhkan jiwa patriotisme dan kebangsaan. Generasi muda memolopori gebrakan Gerakan Literasi Nasional, pencanangan Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, sampai pada Gerakan Literasi Bangsa,” sambungya. Diketahui, SINTA (Science and Technology Index ) Score over all merupakan pengukuran kinerja ilmu pengetahuan dan teknologi yang meliputi kinerja peneliti,yang dioperasikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) sebagai monitoring dan evaluasi kinerja publikasi ilmiah di Indonesia. Menurutnya, Sumpah Pemuda adalah ikrar kebangsaan yang diucapkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan Indonesia, yang berisi tiga janji: satu tanah air (tanah air Indonesia), satu bangsa (bangsa Indonesia), dan satu bahasa (bahasa Indonesia). Ikrar ini menjadi tonggak penting persatuan dan identitas nasional Indonesia dan lahir dari hasil Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Jakarta. Isi Sumpah Pemuda: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar ini menjadi salah satu pemicu lahirnya semangat kemerdekaan Indonesia. “Sumpah Pemuda menjadi simbol keberanian dan persatuan bangsa Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Persatuan dalam keberagaman: Meskipun berasal dari suku, budaya, dan agama yang berbeda, para pemuda bersatu demi satu tujuan. Ini mencerminkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, ” ucapnya. Dr Frangky menambahkan, rasa bangga akan Tanah Air: Sumpah Pemuda menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaan serta produk buatan Indonesia. Semangat patriotisme: Ikrar ini membangkitkan semangat perjuangan dan rela berkorban demi kemerdekaan bangsa Bahasa persatuan: Dengan menjunjung tinggi bahasa Indonesia, para pemuda memperkuat identitas nasional dan mempermudah komunikasi lintas daerah. Penyatuan visi kebangsaan: Ikrar ini menjadi tonggak penting dalam menyatukan visi kebangsaan untuk meraih kemerdekaan. Diakhir uraiannya, dia mengatakan, Pemuda yang melek literasi menjadi keniscayaan. Peringatan hari Sumpah Pemuda menjadi momentum yang pas untuk Kembali melakukan refleksi pada diri masing-masing. Kesadaran berliterasi itu harus bisa diwujudkan dalam memaknai momentum Sumpah Pemuda. Betapa para pemuda Indonesia wajib memiliki multiliterasi sehingga lebih kritis dan mampu memberikan solusi pemecahan dari persoalan bangsa. “Selama berabad-abad, diketahui bahwa perpustakaan itu sebagai sumber informasi dan sumber ilmu pengetahuan yang utama, serta menjadi tulang punggung dunia pendidikan kita. Para pemuda harus dapat mengambil estafet semangat juang Sumpah Pemuda. Semoga dengan memaknai peringatan hari Sumpah Pemuda, dapat menumbuhkan kepekaan intelektualitas generasi muda untuk cinta tanah air dan bangsa dengan cerdas berliterasi,” jelaanya. Sebagai referensi, Keith Foulcher 2008. Sumpah Pemuda: The Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood. Penerbit Komunitas Bambu, Jakarta. ISBN: 979-3731-35-4. 109 hal. Pandya, J.Z., Mora, R.A., Alford, J.H., Golden, N.A., & de Roock, R.S. (Eds.). (2021). The Handbook of Critical Literacies (1st ed.). Routledge. New York. ISBN 9781003023425 p 522. Yulies Tiena, dkk 2021. Menggali Pondasi karakter Bangsa dengan Semangat Sumpah Pemuda. Unisma Press. Malang. ISBN: 978-623-99161-1-4 168 hal Miller, J.W., & McKenna, M.C. (2016). World Literacy: How Countries Rank and Why It Matters (1st ed.). Routledge. New York. ISBN 9781315693934 p 228.(axm)
