23.3 C
Manado
Senin, Juni 15, 2026
spot_img
Beranda Nasional Menjadi Penentu Kualitas SDM, Softskill Sangat Penting untuk Kesuksesan Karier

Menjadi Penentu Kualitas SDM, Softskill Sangat Penting untuk Kesuksesan Karier

blank

Oleh: Dr.dr Theresia Kaunang, Sp.KJ, Subsp.AR (K), CT

(Founder Prima Potensi Terpadu/Certified Trainer)

MANADO, Radarmanadoonline.com-Softskill merupakan pasangan dari hardskill. Bahkan, Softskill dapat diajarkan mendahului anak Balita masuk sekolah. Pendidikan di sekolah merupakan bentuk hardskill. Softskill dapat diajarkan sejak dini mulai usia 1- 3 tahun melalui kebiasaan sederhana dan semakin intensif pada usia prasekolah (3 – 5 tahun). Fokus awal mencakup kesopanan yaitu terima kasih, maaf, berbagi dan kemandirian dasar, seperti membereskan mainan atau mengenakan baju sendiri. Unsur- unsur tanggung jawab dalam hal sederhanapun mulai nyata dalam kegiatan kecil. Ketika anak berusia 1- 2 tahun diawali dengan pengenalan dasar seperti konsep berbagi, bergiliran, dan interaksi sosial sederhana saat bermain bersama teman sebaya. Betapa pentingnya softskill pada kehidupan anak, namun seringkali hingga dewasa softskill seseorang tidak berkembang optimal, sehingga seringkali mengalami kegagalan. Softskill adalah kemampuan interpersonal dan atribut pribadi yang menentukan cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi dan bekerja sama secara efektif dengan orang lain. Aspek-aspek dalam softskill meliputi komunikasi efektif, kerjasama tim, kepemimpinan, berpikir kritis dan pemecahan masalah, manajemen waktu, kreativitas dan inovasi, adaptabilitas, empati dan kecerdasan emosional. Softskill sangat penting untuk kesuksesan karier karena memengaruhi kemampuan seseorang dalam beradaptasi, memecahkan masalah dan membangun hubungan di lingkungan kerja. Softskill juga menjadi penentu kualitas SDM. Banyak karyawan yang dipecat karena softskill yang kurang memadai. Selain itu, dampak buruk jika softskill kurang optimal adalah kemajuan karier terhambat, kurang kemampuan leadership, adaptabilitas dan manajemen konflik, sehingga sulit naik jabatan. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi efektif menyebabkan kesalahpahaman, kesalahan dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang tidak produktif, sehingga menghambat kolaborasi. Manajemen waktu yang buruk, termasuk kesulitan mengatur prioritas, tenggat waktu, atau mengelola tekanan pekerjaan dan berdampak pada kesehatan mental hingga stres, dan memengaruhi kualitas pekerjaan. Dalam kehidupan sehari-hari jika softskill buruk, maka akan mengalani kesulitan membangun hubungan/jaringan, terjadi isolasi sosial, mengambil keputusan yang kurang efektif. Secara keseluruhan softskill yang kurang optimal menghambat perkembangan potensi yang ada pada seseorang secara bermakna, baik dalam mencapai tujuan profesional maupun dalam menjalani kehidupan pribadi yang memuaskan. Mengasah ketrampilan ini sama pentingnya dengan mempelajari keahlian teknis di sekolah formal.(*)

Baca Juga:  Respons Positif Kunjungan Presiden Jokowi dan Cawapres Gibran di Sulut, Lois: Hargai Perbedaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini