24.9 C
Manado
Jumat, April 24, 2026
spot_img
Beranda Insight Jangan Cuma Jadi Pengguna Teknologi, Ini Pesan Tan Malaka untuk Anak Muda...

Jangan Cuma Jadi Pengguna Teknologi, Ini Pesan Tan Malaka untuk Anak Muda Indonesia

Kamu pernah sadar tidak?

Setiap hari kita hidup dengan teknologi. Bangun tidur cek HP. Cari jalan pakai Google Maps. Makan pesan lewat aplikasi. Belanja tinggal klik. Hiburan tinggal scroll.

Hidup terasa makin mudah.

Tapi ada satu pertanyaan yang jarang kita pikirkan:

Kita ini sedang menjadi generasi yang menguasai teknologi, atau hanya generasi yang dikuasai teknologi?

Pertanyaan ini penting. Sebab jauh sebelum internet, media sosial, dan kecerdasan buatan hadir, Tan Malaka sudah mengingatkan bahwa bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya punya semangat. Bangsa itu juga harus punya ilmu pengetahuan, logika, teknologi, dan keberanian berpikir sendiri.

Dalam Madilog, Tan Malaka menekankan pentingnya cara berpikir berbasis materialisme, dialektika, dan logika. Sederhananya, ia ingin orang Indonesia tidak mudah hidup dalam takhayul, tidak mudah percaya begitu saja, dan tidak hanya ikut arus tanpa memahami kenyataan. Buku itu sendiri memang disusun sebagai cara berpikir, bukan sekadar kumpulan teori berat.

Kenyamanan Bisa Membuat Kita Lupa Berpikir

Masalah generasi sekarang bukan lagi kurang akses informasi.

Justru sebaliknya.

Informasi terlalu banyak. Hiburan terlalu mudah. Apa pun yang kita mau hampir selalu tersedia dalam genggaman.

Mau belajar? Ada YouTube.

Mau cari jawaban? Ada Google.

Mau bikin tulisan, desain, video, bahkan coding? Sekarang ada AI.

Semua serba cepat.

Tapi di sinilah bahayanya. Ketika semua terasa mudah, kita bisa lupa bertanya: siapa yang menciptakan semua kemudahan ini?

Kita menikmati aplikasi, tapi tidak tahu cara kerjanya.

Kita memakai teknologi, tapi tidak ikut membangunnya.

Kita ramai di media sosial, tapi sering lupa membaca keadaan sosial di sekitar kita.

Ibarat orang naik motor matic, kita tinggal gas. Tapi ketika mesin rusak, kita bingung. Karena selama ini kita hanya tahu cara memakai, bukan cara memahami.

Tan Malaka Tidak Anti-Kemajuan

Tan Malaka bukan sedang mengajak orang menjadi kaku atau anti-modern.

Justru sebaliknya.

Ia melihat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah syarat penting bagi bangsa yang ingin merdeka secara sungguh-sungguh.

Kemerdekaan bukan hanya soal punya bendera, lagu kebangsaan, atau pemerintahan sendiri. Kemerdekaan juga soal kemampuan bangsa untuk berdiri dengan pikiran, ilmu, dan teknologinya sendiri.

Kalau hari ini kita hubungkan dengan kehidupan anak muda, pesannya menjadi sangat relevan:

Jangan hanya menjadi pasar.

Jangan hanya menjadi penonton.

Jangan hanya menjadi pengguna aplikasi buatan orang lain.

Bangsa yang hanya memakai teknologi tanpa menguasainya akan selalu bergantung. Sama seperti orang yang punya mobil bagus, tetapi tidak tahu apa-apa tentang mesin, bensin, ban, atau remnya.

Dari luar terlihat keren. Tapi begitu ada masalah, langsung berhenti.

Anak Muda Jangan Terlena Scroll Tanpa Arah

Kita perlu jujur.

Banyak anak muda hari ini sangat cepat mengikuti tren, tetapi lambat memahami persoalan.

Viral sedikit, langsung ikut.

Ada isu panas, langsung komentar.

Ada hoaks, kadang ikut menyebarkan.

Ada teknologi baru, langsung pakai, tapi jarang bertanya dampaknya.

Padahal, kemampuan berpikir kritis inilah yang menjadi inti dari pesan Tan Malaka.

Ia ingin masyarakat Indonesia tidak mudah digiring oleh mitos, ketakutan, propaganda, atau omongan orang yang terdengar meyakinkan tapi kosong bukti.

Kalau dibuat dalam bahasa hari ini, pesan Tan Malaka kira-kira begini:

Jangan cuma pintar scroll. Pintarlah membaca arah zaman.

Sebab yang menguasai masa depan bukan orang yang paling lama online, tetapi orang yang paling mampu memahami perubahan.

Ilmu Pengetahuan Itu Bukan Cuma Urusan Anak Teknik

Kadang kita menganggap ilmu pengetahuan itu hanya milik anak teknik, anak kedokteran, anak matematika, atau orang laboratorium.

Padahal tidak.

Ilmu pengetahuan itu cara berpikir.

Ketika kamu membandingkan harga sebelum membeli barang, itu logika.

Ketika kamu mengecek fakta sebelum percaya berita, itu literasi sains.

Ketika kamu menghitung risiko sebelum investasi, itu cara berpikir rasional.

Ketika kamu bertanya “apa buktinya?” sebelum ikut menyebarkan informasi, itu bagian dari mental ilmiah.

Jadi, ilmu pengetahuan tidak selalu berarti rumus panjang di papan tulis.

Ilmu pengetahuan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: tidak mudah percaya sebelum memeriksa.

Indonesia Butuh Anak Muda yang Bukan Cuma Nyaman

Kenyamanan memang menyenangkan.

Tapi kalau terlalu nyaman, kita bisa kehilangan daya kritis.

Kita tidak lagi peka pada masalah pendidikan, kemiskinan, ketimpangan, lingkungan, pekerjaan, dan masa depan teknologi.

Padahal semua masalah itu sedang terjadi di sekitar kita.

Tan Malaka menulis Madilog dalam suasana sulit. Ia hidup dalam tekanan, pelarian, keterbatasan buku, dan situasi politik yang keras. Namun, ia tetap memikirkan bagaimana bangsa ini bisa berpikir lebih maju.

Bandingkan dengan kita hari ini.

Kita punya internet.

Kita punya akses buku digital.

Kita punya AI.

Kita punya kursus online.

Kita punya ruang belajar yang jauh lebih luas.

Pertanyaannya: apakah semua fasilitas itu benar-benar kita pakai untuk bertumbuh, atau hanya untuk menghibur diri?

Dari Konsumen Menjadi Pencipta

Kalau anak muda Indonesia ingin naik kelas, kita harus mulai mengubah posisi.

Dari sekadar pengguna menjadi pencipta.

Dari sekadar penonton menjadi pembuat.

Dari sekadar ikut tren menjadi pembaca arah perubahan.

Tidak semua orang harus menjadi ilmuwan. Tidak semua orang harus menjadi programmer. Tapi semua orang perlu punya cara berpikir yang sehat, logis, dan kritis.

Mulailah dari hal kecil.

Baca lebih banyak.

Cek sumber informasi.

Belajar teknologi yang kamu pakai.

Pahami isu sosial di sekitarmu.

Jangan takut bertanya.

Jangan gengsi belajar.

Karena masa depan tidak dibangun oleh generasi yang hanya nyaman rebahan, tetapi oleh generasi yang berani berpikir.

Penutup

Tan Malaka sudah mengingatkan bahwa bangsa yang ingin maju harus memiliki cara berpikir yang kuat. Bukan cara berpikir yang mudah menyerah pada mitos, bukan pula cara berpikir yang hanya ikut arus.

Hari ini, pesan itu terasa semakin penting.

Di tengah dunia yang serba digital, anak muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Kita perlu menjadi generasi yang mengerti, mengolah, menciptakan, dan mengarahkan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi: teknologi apa yang kamu pakai hari ini?

Pertanyaannya adalah:

apa yang kamu bangun dengan semua kemudahan yang kamu punya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini