Radarmanadoonline.com, MANADO — Akses internet di Sulawesi Utara disebut terus berkembang, namun di lapangan masih ditemukan sejumlah wilayah yang mengalami sinyal lemah bahkan sulit terhubung. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah semua daerah benar-benar sudah terlayani, atau masih ada blank spot yang belum terselesaikan?
Sejumlah laporan dari media nasional dan diskusi warga di media sosial menunjukkan adanya perbedaan antara data resmi dan pengalaman masyarakat. Di atas kertas, banyak wilayah telah masuk kategori “terjangkau jaringan”, namun dalam praktiknya akses internet masih belum stabil.
Program pembangunan infrastruktur digital melalui BAKTI Komdigi memang terus berjalan, termasuk penyediaan BTS di wilayah 3T dan daerah dengan keterbatasan jaringan. Namun kualitas layanan menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang sulit.
Keluhan warga kerap muncul di forum digital, termasuk di komunitas lokal seperti grup Facebook “Sulut Digital”. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa jaringan hanya muncul pada waktu tertentu, sementara di jam sibuk koneksi menjadi sangat lambat atau bahkan hilang.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Di sektor pendidikan, siswa dan mahasiswa masih kesulitan mengikuti pembelajaran daring secara optimal. Di sisi lain, pelaku usaha kecil juga menghadapi kendala dalam memanfaatkan platform digital untuk pemasaran dan transaksi.
Masalah tidak berhenti pada kecepatan internet. Akses yang tidak stabil juga memengaruhi layanan publik berbasis digital, seperti administrasi kependudukan, layanan kesehatan, hingga bantuan sosial yang kini mulai beralih ke sistem online.
Perbedaan antara data dan realita ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengguna. Tidak cukup hanya menghadirkan jaringan, tetapi juga memastikan kualitas koneksi dapat digunakan secara konsisten oleh masyarakat.
Ke depan, pendekatan berbasis data lapangan menjadi penting. Laporan warga dapat menjadi pelengkap data resmi untuk membantu pemerintah mengidentifikasi wilayah yang masih membutuhkan perbaikan jaringan.
Di tengah dorongan transformasi digital, isu blank spot internet bukan sekadar persoalan teknis. Ini menyangkut akses terhadap informasi, peluang ekonomi, dan kesetaraan pembangunan di daerah.(rpr)

