26.3 C
Manado
Kamis, Mei 14, 2026
spot_img
Beranda Insight Filsafat Menjadi Produktif Tanpa Harus Gila: Pelajaran Stoik untuk Menghadapi Tekanan Hidup Modern

Menjadi Produktif Tanpa Harus Gila: Pelajaran Stoik untuk Menghadapi Tekanan Hidup Modern

“Tugas terpenting dalam hidup adalah belajar membedakan: mana yang berada di luar kendali kita, dan mana yang masih bisa kita pilih serta kendalikan sendiri. Karena pada akhirnya, kebaikan dan keburukan hidup bukan ditentukan oleh keadaan luar, tetapi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil.” — Epictetus

Insight, Radarmanadoonline.com – Pernahkah Anda merasa sudah bekerja mati-matian, tapi tetap merasa cemas saat melihat pencapaian teman di Instagram? Atau mungkin Anda merasa hari Anda hancur total hanya karena satu komentar miring dari atasan atau rekan kerja anda?

Jika iya, Anda tidak sendirian. Kita hidup di era yang memaksa kita untuk merasa bertanggung jawab atas segalanya—mulai dari opini orang lain hingga arah ekonomi global. Namun, filsafat kuno bernama Stoikisme menawarkan cara berpikir yang berbeda: tidak semua hal layak mendapatkan ruang di kepala Anda.

Fakta di Balik Kelelahan Kita

Data terbaru dari Deloitte Global 2025 menunjukkan potret yang cukup suram bagi generasi produktif. Sekitar 40% Gen Z dan 34% milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang waktu. Masalahnya klise namun berat: masa depan keuangan, beban kerja yang meledak, hingga budaya kantor yang kurang apresiasi.

Bahkan, WHO mencatat bahwa gangguan mental di lingkungan kerja bukan lagi isu pinggiran. Depresi dan kecemasan secara global menyebabkan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun. Ini setara dengan kerugian produktivitas sebesar US$1 triliun. Angka-angka ini membuktikan satu hal: cara kita mengelola tekanan selama ini sedang tidak baik-baik saja.

Belajar dari Epictetus: Dikotomi Kendali

Sekitar dua ribu tahun lalu, seorang mantan budak yang menjadi filsuf bernama Epictetus menulis dalam karyanya Discourses. Ia menegaskan bahwa tugas utama dalam hidup sebenarnya sangat sederhana: memilah mana hal eksternal yang tidak berada dalam kendali kita, dan mana pilihan pribadi yang benar-benar bisa kita kendalikan.

Baca Juga:  Hidup Tidak Selalu Hitam Putih, Ini Cara Tan Malaka Membaca Perubahan Zaman

Prinsip ini dikenal sebagai Dikotomi Kendali. Bayangkan energi Anda adalah baterai handphone. Jika Anda menggunakan 90% baterai untuk mencemaskan algoritma medsos, respons publik, atau kapan ekonomi akan membaik, Anda hanya menyisakan 10% untuk tindakan nyata yang bisa Anda lakukan hari ini.

Mengapa Kita Begitu Tertekan?

Generasi usia 20–40 tahun saat ini berada di persimpangan yang unik. Di satu sisi, kita dituntut untuk “cepat berhasil” dan memiliki stabilitas finansial. Di sisi lain, kita terpapar pada perbandingan hidup tanpa henti melalui layar handphone.

Kita sering kali memperlakukan hal-hal di luar kendali seolah-olah itu adalah tanggung jawab pribadi kita. Kita stres karena tidak bisa mengubah sikap rekan kerja yang menyebalkan, atau kita pusing memikirkan keputusan pemerintah. Padahal, dalam pandangan Stoik, satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah: penilaian kita, tujuan kita, keinginan kita, dan penolakan kita.

Dampak Personal: Ambil alih Kendali

Secara personal, memahami prinsip ini adalah sebuah kebebasan. Ketika Anda berhenti mencoba mengendalikan hasil akhir dan mulai fokus pada proses, beban di pundak Anda akan terasa berkurang. Anda tidak bisa mengontrol apakah Anda akan dipromosikan (karena itu keputusan atasan), tapi Anda punya kendali penuh atas kualitas kerja yang Anda berikan setiap hari.

Anda juga tidak bisa mengendalikan kata-kata kasar orang lain kepada Anda. Namun, Anda punya kuasa mutlak untuk menentukan apakah kata-kata itu layak merusak suasana hati Anda atau hanya dianggap sebagai angin lalu. Ini bukan tentang bersikap pasrah, tapi tentang menjadi strategis dengan energi mental Anda sendiri.

Baca Juga:  Hidup Kita Hanya Ada di Saat Ini

Realitas di Sulawesi Utara

Tekanan ini juga nyata di sekitar kita. Di Sulawesi Utara, data terbaru BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 5,75%, turun dibanding Februari 2025 yang berada di angka 6,03%. Secara angka, pasar kerja menunjukkan perbaikan, tetapi tantangannya belum hilang, terutama bagi generasi produktif yang hidup di tengah tuntutan kerja, ekspektasi keluarga, dan perubahan skill yang cepat.

Tekanan itu makin terasa ketika dikaitkan dengan biaya hidup. Pada April 2026, BPS Sulut mencatat inflasi tahunan Sulawesi Utara sebesar 2,14%, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 2,97%. Artinya, bagi anak muda di Manado, Bitung, Tomohon, dan wilayah urban lain, tekanan hidup tidak hanya datang dari persaingan kerja, tetapi juga dari harga kebutuhan, biaya mobilitas, gaya hidup digital, dan standar sukses yang sering kali “dipinjam” dari internet.

Namun, seperti pesan Epictetus, kondisi ekonomi daerah, perubahan harga, dan persaingan pasar kerja adalah bagian dari hal eksternal yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Yang masih berada dalam kendali kita adalah cara merespons: meningkatkan skill, menjaga kewarasan, mengatur ekspektasi, dan memilih langkah kecil yang tetap bisa dikerjakan hari ini.

Bagaimana Pendapatmu?