MANADO, Radarmanadoonline.com-Terkait peringatan sekaligus perayaan HUT ke-403 Kota Manado, Nona Manado Berbakat 2026, Judea Zaitunia Tunari, dan semua penyandang gelar Nyong-Nona Manado 2026, melaksanakan tugas sebagai duta Kota Manado, di sejumlah kegiatan, Selasa (14/7/2026).
Sebelum melakoni tugas dalam rangkaian kegiatan HUT Kota Tinutuan ini, Judea Zaitunia Tunari, menyampaikan tanggapan seputar keikutsertaanya di Pemilihan Nyong-Nona Manado (PNNM) 2026. Kepada Media ini, putri pasangan Ketua BKSAUA Manado Pdt. Judi S Tunari, M.Th dan Krestiane D. Agouw, mengungkapkan senang dan bersyukur bisa berkompetisi sekaligus meraih gelar di PNNM 2026. “Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas kasih dan penyertaan-Nya saya boleh terpilih dan dinobatkan sebagai Nona Manado Berbakat 2026. Saya merasa sangat bersyukur dan bangga,” kata Yudea kepada radarmanadoonline.com, Senin (13/7/2026) malam. Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)
semester 7 ini, menuturkan gelar Nona Manado Berbakat 2026 yang diraihnya, bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk terus berkarya, menginspirasi generasi muda, dan memberikan kontribusi bagi Kota Manado.

Yudea yang tergabung di Pemuda Cinta Kerukunan Kota Manado, mengatakan seluruh rangkaian PNNM ke-37, dari audisi hingga grand final, menjadi pengalaman yang sangat berharga. “Saya belajar tentang kepemimpinan, disiplin, komunikasi, kepariwisataan, budaya, serta pentingnya membangun persaudaraan,” sambungnya. Bagi Yudea yang mewakili Kecamatan Bunaken di PNNM 2026 ini, momen yang paling berkesan adalah masa karantina. ” Karena di (karantina, red) sanalah kami dibentuk melalui berbagai pembekalan, dan semakin mengenal satu sama lain sebagai satu keluarga,” ungkapnya. Menurutnya sebagai mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, yang dibesarkan dalam keluarga pendeta, Keluarga Tunari-Agouw, dia diajarkan bahwa kepemimpinan adalah tentang melayani dengan integritas, rendah hati, dan menjadi berkat bagi sesama. “Nilai-nilai itu menjadi pegangan saya selama mengikuti kompetisi (PNNM, red) ini. Saya juga percaya, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berkarya. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing, dan selama kita terus belajar, bekerja keras, serta mengandalkan Tuhan, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh dan memberikan dampak positif, ” ujarnya. Dikatakan, Yudea, di talent show, dia menampilkan tari Pisok sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya Sulawesi Utara (Sulut)
dan berharap, generasi muda semakin bangga melestarikanwarisan budaya daerah. “Keberhasilan ini tidak lepas dari penyertaan Tuhan, doa dan dukungan kedua orang tua serta keluarga, teman-teman finalis (finalis PNNM 2026, red) sahabat, dan seluruh masyarakat yang telah memberikan doa serta kepercayaan kepada saya,” katanya ramah. Seusai berkompetisidi ajang bergengsi dan terbesar di Kota Manado ini, Yudea pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensupportnya. Dia juga berharap, ke depan, dapat menjalankan amanah sebagai duta Kota Manado dengan sebaik-baiknya. “Dan mempromosikan pariwisata, budaya, dan nilai-nilai kerukunan, serta mengajak generasi muda untuk terus berkarya, mencintai daerahnya, dan bersama-sama membangun Kota Manado yang semakin maju, berdaya saing, dan tetap dikenal sebagai kota yang ramah, toleran, dan penuh keberagaman. Saya juga berharap, dapat bekerja sama dengan pemerintah Kota Manado, serta turut berkontribusidalam mendukung dan menyukseskan berbagai program yang telah dicanangkan oleh bapak wali kota dan bapak wakil wali Kota Manado, demi kemajuan kota dan kesejahteraan masyarakat.
Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati,” ucapnya.(axm)
