Radar Manado – KOTAMOBAGU — Tragedi kecelakaan yang merenggut korban jiwa dalam event drag race di Jalan AP Mokoginta, Kelurahan Upai, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, Minggu (9/8), menyita perhatian berbagai pihak.
Keprihatinan atas insiden tersebut disampaikan Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI) melalui Bagian Investigasi KANNI Indonesia Timur, Chandra E. Damopolii.
Chandra menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
“Saya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang terjadi dalam kegiatan drag race di Kotamobagu. Ini adalah tragedi yang sangat menyedihkan dan tentu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga para korban,” ujar Chandra, Senin (10/8/2026).
Selain menyampaikan duka cita, Chandra turut mendoakan para korban luka yang masih menjalani perawatan agar mendapatkan penanganan medis terbaik dan segera diberikan kesembuhan.
“Untuk saudara-saudara kita yang sedang menjalani perawatan, saya berharap mendapatkan penanganan terbaik dan segera diberikan kesembuhan. Kepada keluarga korban yang meninggal dunia, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini,” ungkapnya.
Menurut Chandra, tragedi tersebut harus menjadi momentum evaluasi serius terhadap aspek keselamatan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan peserta maupun masyarakat sebagai penonton.
Ia menegaskan, KANNI tetap mendukung kegiatan olahraga dan otomotif yang memberikan ruang positif bagi masyarakat. Namun, dukungan tersebut harus berjalan beriringan dengan penerapan standar keselamatan yang ketat.
“Kita tentu mendukung kegiatan olahraga dan otomotif yang positif bagi masyarakat. Tetapi keselamatan penonton, peserta, panitia dan seluruh pihak yang terlibat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai sebuah kegiatan yang seharusnya menjadi hiburan justru berubah menjadi tragedi,” tegasnya.
Chandra juga mendorong agar penyelenggaraan event tersebut dievaluasi secara menyeluruh. Evaluasi, kata dia, perlu mencakup berbagai aspek, mulai dari pengamanan lintasan, jarak aman penonton, kesiapan petugas, hingga sistem mitigasi risiko.
Menurutnya, kegiatan dengan tingkat risiko tinggi tidak cukup hanya mengandalkan pengamanan secara umum. Setiap potensi bahaya harus diantisipasi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.
“Peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Ke depan, setiap penyelenggaraan event yang memiliki risiko tinggi harus benar-benar memperhitungkan aspek keselamatan dan memiliki sistem pengamanan yang memadai. Kita tidak ingin kejadian seperti ini kembali terulang,” harapnya. (***)

