GAZA CITY-Seorang komandan tinggi militer Hamas yang memimpin 400 militan di Gaza, Palestina, angkat bicara mengenai kondisi mereka. Dari ucapannya, situasi mereka saat ini sangat sulit seiring gempuran militer Israel yang begitu intens dan masif. Mereka kehilangan arah. Tidak tahu apa yang mesti dilakukan. “Kami tidak tahu jalan mana harus diambil,” kata komandan militer Hamas menggunakan nama samaran Abu Mohammed dalam wawancara eksklusif dengan The Daily lewat aplikasi Telegram terenkripsi seperti dikutip Daily Mail. Mohammed tidak menyangka Israel menggempur Gaza tanpa henti sebagai pembalasan atas serangan mereka pada 7 Oktober 2023 lalu. Akibat serangan Israel tersebut, lebih dari 10 ribu warga Palestina tewas. Anak-anak dan perempuan paling banyak jumlahnya. Bagi Mohammed, itu adalah kenyataan yang begitu pedih dan menyakitkan. “Kami tidak menyangka akan jadi seperti ini. Gaza kami tercinta dibombardir,” lanjutnya. Mohammed pun mulai mempertanyakan kepemimpinan Hamas Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh. Menurut dia, serangan itu awalnya direncanakan hanya untuk membunuh tentara Israel dan menyanderanya sebagian untuk ditukar dengan militan Hamas yang ditahan. Namun, dia menuduh pemimpin Hamas Yahya Sinwarbertindak seperti ‘pejuang jalanan’. Di menit-menit terakhir sebelum serangan, para militan muda diperintah untuk melakukan apa saja yang mereka suka. “Pemimpin kami berbicara kepada generasi muda kami dengan mengatakan pergi, lakukan apapun yang kalian suka, ambil apa pun yang kalian suka.” Anda lihat dan saksikan kami telah membunuh warga sipil dan menyandera 250 orang, itu tak direncankan sebelumnya,” ucap Mohammed. Dia mengatakan, mestinya, serangan 7 Oktober 2023 lalu itu tidak menargetkan warga sipil Israel. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini mereka menghadapi pembalasan Israel yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. “Alasan kami untuk berbicara adalah karena kami ingin menyuarakan pendapat kami kepada dunia. Masalahnya adalah karena kepemimpinan kami.” Dia mengklaim bahwa komandan militer Hamas di Gaza telah terputus dari kepemimpinan politik. Sekarang hanya bergantung pada pembawa pesan seperti di zaman dulu. Pada kesempatan tersebut, dia juga mengkritik pemimpin Hamas yang berada di luar Gaza, Palestina, tepatnya di Qatar dan Turki. Mereka masih hidup dengan tenang, nyaman, dan mewah s
ementara dia dan pasukannya harus menghadapi gempuran tentara Israel dan bertahan dengan hanya makan kurma dan minyak zaitun. Mereka menghancurkan kami,” tandasnya. Terpisah, menurut outlet berita Jerman Bild, ada empat pejabat Hamas yang menjadi sangat kaya selama bertahun-tahun. Mereka adalah Abu Marzouk, Khaled Mashal, Ismail Haniyeh, dan Younis Qafisheh. Haniyeh diyakini sebagai orang terkaya di antara ketiganya, dan memiliki bisnis di bidang minyak zaitun dan rempah-rempah za’atar. Haniyeh kini tinggal di Qatar. Dia ayah dari 13 anak yang kini berusia 61 tahun, dan menjalani kehidupan mewah di di Qatar dan Turki. Tabloid Jerman Bild juga melaporkan bahwa Haniyeh sering melakukan perjalanan antara Teheran, Istanbul, Moskow, dan Kairo dengan jet pribadinya untuk bertemu dengan para pemimpin di negara-negara sahabat, dan dua putranya, Maaz dan Abdel Salam, dan sering terlihat di postingan Instagram sedang bersantai di tempat tidur hotel di Istanbul, Turki dan Doha, Qatar. Per Kamis (9/11/2023), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palestina melaporkan sebanyak 10.790 warga Palestina tewas imbas serangan Israel di Gaza, dengan 4.412 di antaranya merupakan anak-anak dan 2.918 lainnya perempuan. Terpisah, pihak militer Israel, Israel Defense Forces (IDF) mengungkapkan, sudah menghancurkan 130 terowongan sejak mereka membombardir Gaza pascaserangan Hamas 7 Oktober 2023 lalu. Tak hanya terowongan, Israel juga membombardir tempat penyimpanan air dan oksigen yang selama ini digunakan oleh Hamas selama bertahan menghadapi serangan. Situasi di Gaza, Palestina, kian memburuk. Korban dari kalangan sipil terus berjatuhan meski mereka diberi kesempatan untuk keluar dari Gaza menghindari pertempuran. Pihak IDF menerangkan, telah menguasai benteng miliki kelompok militan Palestina, Hamas setelah melakukan perang selama 10 jam di utara Gaza, Kamis (9/11/2023). Dikutip dari Al-Arabiya, IDF mengatakan pasukan Brigade Nahal telah menguasai markas militer bernama ‘Pos 17’ yang berada di barat jauh Jabaliya di dekat utara perbatasan Gaza. Selama pengambilalihan pos tersebut, pasukan Israel terlibat pertempuran dengan Hamas dan Jihad Islam yang berada di pos terdepan, baik lewat darat maupun melalui jalur bawah tanah di kawasan itu. Dikatakan pihak IDF, perlu waktu sampai 10 jam pertempuran sehingga dapat mengalahkan pasukan Hamas dan Jihad Islam. pihak IDF juga mengungkapkan, pasca berhasilnya menguasai pos tersebut, penyitaan senjata telah dilakukan. Selain itu, pihak IDF juga menemukan terowongan di dekat taman kanak-kanak (TK) di mana terowongan tersebut merupakan rute bawah tanah yang luas. “Selama pengambilalihan pos terdepan, tentara Nahal menemukan dan mengumpulkan skema pertempuran dan rencana operasional Hamas yang signifikan,” ujar pihak IDF.(tnc/vvc/axm)
