MANADO-Rangkaian pelaksanaan Pemilihan Nyong-Nona Manado (PNNM) 2024 sudah dimulai. Diawali pembentukan panitia PNNM 2024. Dr Albert Pongoh dipercayakan sebagai ketua panitia PNNM 2024. Selanjutnya, panitia segera membuka pendaftaran bagi calon peserta PNNM 2024. Diketahui, PNNM merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan memperingati HUT Kota Manado, 14 Juli 2024. Menjelang digelarnya PNNM tahun ini, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E menceritakan pengalamannya saat berkompetisi di PNNM sekaligus meraih gelar Nyong Manado 1988. “Karena saya memenangkan gelar Nyong Manado pada tahun tersebut, sehingga saya diikut sertakan dalam pemilihan Nyong dan Noni Sulut pada tahun yang sama,” kata Mayjen TNI Rano Tilaar kepada radarmanadoonline.com, Senin (29/4). Dikatakan suami Tanya Tengker, SE, M.B.A dan ayah dari Dennis, Nadina, dan Darren, hal menarik dari pengalamannya ketika mengikuti PNNM 36 tahun yang lalu yaitu saat selesai melaksakan kirab keliling Kota Manado, para finalis dibawa ke Taman Kesatuan Bangsa (TKB), kawasan pusat Kota Manado. “Pada waktu 36 tahun yang lalu kondisi TKB tidak jauh berbeda dengan saat ini. Perbedaannya hanya kala itu di bagian utara taman tersebut masih digunakan sebagai stasiun mobil angkutan kota yang rata-rata bermerk Suzuki dan Daihatsu yang sering juga disebut Bemo oleh masyarakat Manado pada umumnya,” kenangnya. Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lembaga Ketahanan Nasional (Tajar Lemhannas), menuturkan kala itu di TKB telah disiapkan sebuah panggung cukup besar dimana di atasnya terdapat pergelaran musik kontemporer dan musik kolintang. “Acara tersebut digelar bertujuan memperkenalkan para calon Nyong dan Nona Manado kepada masyarakat Kota Manado,” ujarnya. Mantan Wakil Kepala Pusat Penerangan (Waka Puspen) TNI menuturkan, sebelum acara itu dimulai, Wali Kota Manado (kala itu) Ir. N.H Eman menanyakan sebuah pertanyaan yang masih diingatnya hingga saat ini. “Pertanyaan tersebut adalah, apakah kalian para calon Nyong dan Nona Manado tahu, mengapa taman tempat kita berada saat ini dinamakan Taman Kesatuan Bangsa, imbuh sang wali kota pada saat itu,” ungkap Mayjen TNI Rano Tilaar sembari meniru ucapan Wali Kota N.H Eman. Mendengar pertanyaan dari Wali Kota, kata Mayjen Rano, para kontestan PNNM 1988 hanya bisa terperangah dan kebingungan karena tidak bisa menjawabnya. “Pak wali kota lalu menjawab sendiri pertanyaannya dengan berkata, taman ini dinamakan Taman Kesatuan Bangsa, karena pembiayaan pembangunan taman ini dibiayai oleh para pengusaha yang memiliki usaha dipertokoan di sekitar (TKB, red) sini yang notabenenya mereka (pengusaha, red) adalah dari etnis Tionghoa,” ujarnya. Dikatakan mantan Kepala Staf Garnizun (Kasgar) Ibu Kota Jakarta, pertanyaan sekaligus penjelasan dari Wali Kota Alm Ir NH Eman ini tetap diingatnya. “Pada suatu kesempatan di tahun 2014 ketika INNM (Ikatan Nyong dan Nona Manado) menyelenggarakan sebuah musyawarah di Hotel Lion, kebetulan saya menghadirinya. Dan ternyata, saya diberikan kesempatan oleh panitia untuk memberikan sambutan kepada para peserta musyawarah yang adalah para mantan Nyong dan Nona Manado dari tahun ke tahun. Dalam kesempatan itu, saya lalu mengajukan pertanyaan tersebut kepada mereka seraya mengingatkan bahwa kita sebagai Nyong dan Nona Manado adalah duta wisata yang salah satu tugasnya adalah harus mempromosikan potensi-potensi wisata yang dimiliki oleh Kota Manado. Bagaimana bila ada turis domestik atau turis internasional menanyakan hal tersebut ketika mereka berkunjung ke TKB yang berada di jantung Kota Manado,” pungkasnya.(axm)


