AKADEMIsepak bola ASIOP sudah dikenal dalam persepak bolaan usia muda Indonesia.
Sejumlah pesepakbola nasional lahir dari akademi ini.
Sebut saja ada Adritani, Syamsir Alam hinga generasi Ji Dan Bin.
Terletak kompleks Bukit Sentul, ASIOP memiliki training ground bertaraf Internasional.
Training ground tersebut merupakan sebuah kompleks akademi sepak bola dengan fasilitas komplit, modern, dan bertaraf internasional.
Di sana, tersedia dua lapangan berstandar FIFA, tribune, ruang ganti, ruang kesehatan dan rehabilitasi, shower, asrama pemain, dan lain-lain.
Komplek akademi itu digunakan sebagai pusat pelatihan pesepakbola muda terbaik Indonesia.
Pemain terbaik lulusan ASIOP maupun para pemain seleksi dari seluruh Nusantara akan dilatih oleh para pelatih asal Spanyol serta lokal yang dipersiapkan secara matang untuk kemudian dikirim ke klub CD Polillas Ceuta U-19 di Spanyol.
ASIOP sendiri adalah milik Batavia Sports Group (BSG), perusahaan Indonesia yang membeli klub sepak bola asal Spanyol C.D. Polillas Ceuta. Saat ini klub yang bermarkas di Ceuta tersebut berlaga di kompetisi di Liga Spanyol U-19.

Training ground ASIOP C.D. Polillas, diharapkan kelahiran bibit-bibit pesepakbola baru yang dapat membela merah putih di masa mendatang.
Menengok dari dekat trainning ground ASIOP memanglah sangat luar biasa. Seperti pada Minggu (5/4/2024) saat turnamen Liga Top Skor.
Fasilitas tadi di atas termasuk kantor, ruang pelatih, ruang belajar tersedia pula sport store dengan jualan seperti jersey klub dan jersey tim-tim usia muda serta merchandise. Juga dilengkapi klinik dan cafe.
Yang pasti bertaraf internasional tentu sangatlah lengkap.
Itu adalah gambaran bahwa manajemen konsorsium dan kerjasama sangat menentukan. Wajar mengelola kompleks seperti ini butuh maintenance dan anggaran sangat besar. Makanya, komersil tentu tak bisa diabaikan. Karenanya pemakaian lapangan dan fasilitas harus ada kompensasi atau biaya sewa.
Tapi adakah pihak pribadi juga mengelola kompleks seperti ini minimal ada lapangan rumput sintetis meski bukan ukuran lapangan standar ? Ternyata ada juga di luar Jakarta.
Ya, tak banyak yang tahu bahwa lokasi lapangan sintetis ditunjang kantor, mess pemain, fasilitas kendaraan pemain dan sekolah ada di dusun Kertawinangun, Blok Cikoprak, RT 21, RW 05, Kedawung, Cirebon.

Pemiliknya adalah Subagja, Ketua Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BliSpi).
Soal hobi dan kepedulian dia membina bukan barang baru. Sejak masih di Manado dari tahun 1997-2005, pria Cirebon ini sudah lengket dengan persepakbolaan Sulut. Sempat jadi asisten manajer Persma hingga asisten manajer tim Sulut U23 pada PON XV tahun 2000 di Jatim.
Begitu keluar dari Manado, di kota lain pun tetap membina yakni di Medan dan Bengkulu.
Selain sebagai Ketua BliSpi dia merancang sebuah kompleks pelatihan mini soccer selain pembinaan melalui sepak bola pada lazimnya.
Maka didirikanlah Bina Sentra Akademi di kota kelahirannya. Tak tanggung-tanggung digelontorkannya miliar puluhan rupiah untuk membangun lapangan, kantor, mess pemain dan sejumlah kendaraan.
Jangan heran jika ada kendaraan bertuliskan BliSpi dan Bina Sentra FA yang membawa pemain muda pada turnamen-turnamen di pulau Jawa maka itulah yang dimaksud.
Bukan hanya itu fasilitasnya, cafe dan ruang gym untuk pemain tersedia.
Dan pertanyaan sekarang kapan di daerah kita memiliki fasilitas seperti ini?
” Manado banyak yang hobi bola dan lihat saja lapangan untuk futsal indoor juga tersedia. Tinggal bagaimana mengembangkan,” kata Subagja.
Tentu kita berharap sekali kelak paling tidak Manado memiliki kompleks seperti ini.
Ada upaya ke arah itu yang tengah dilakukan mantan stoper beberapa klub semasa masih aktif, Hans Beslar.
Eks pesepakbola yang pentolan PS Unoson lalu lama di Pusam, lalu di Perseden dan Persma tersebut juga diam-diam tengah merancang sebuah lapangan dan mess di Buha.
(ram)
