Radarmanadoonline.com – Washington, (27/7) – Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, calon presiden Republik Donald Trump mengklaim bahwa jika umat Kristen memilihnya pada pemilihan mendatang, mereka tidak akan perlu memilih lagi dalam empat tahun ke depan. Pernyataan ini dilontarkan dalam acara yang diselenggarakan oleh kelompok konservatif Turning Point Action di West Palm Beach, Florida, pada hari Jumat lalu.
Trump mengatakan, jika di terjemahkan ke bahasa indonesia “Orang Kristen, keluarlah dan pilih, hanya kali ini saja. Dalam empat tahun, kami akan memperbaikinya dengan sangat baik sehingga Anda tidak akan perlu memilih lagi. Orang Kristen yang Indah, saya mencintai Kalian. Saya seorang Kristen. Saya mencintai Kalian, keluarlah dan pilih. Dalam empat tahun, Kalian tidak perlu memilih lagi, kami akan memperbaikinya dengan sangat baik sehingga Kalian tidak akan perlu memilih,” ujar Trump.
Pernyataan ini menimbulkan berbagai spekulasi dan kritik, terutama mengingat latar belakang upaya Trump untuk membalikkan kekalahan pemilihannya pada tahun 2020 dan kerusuhan mematikan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Beberapa pengkritik menilai bahwa pernyataan Trump bisa mengancam prinsip demokrasi, sementara juru bicara kampanye Trump, Steven Cheung, menyatakan bahwa Trump sedang berbicara tentang menyatukan negara dan menyalahkan lingkungan politik yang memecah belah.
Trump juga pernah mengungkapkan pada Desember lalu bahwa jika terpilih kembali, ia akan menjadi seorang diktator, meski kemudian menyebutnya sebagai lelucon. Pernyataan tersebut membuat Demokrat memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Trump. Kini, dengan kemungkinan lawan politiknya, Kamala Harris, sebagai calon presiden Demokrat, persaingan semakin ketat.
Trump juga menyinggung masa kepresidenan Franklin D. Roosevelt, presiden satu-satunya yang menjabat lebih dari dua periode, dengan nada bercanda tentang kemungkinan masa jabatannya lebih dari dua periode.
Pernyataan Trump yang terbaru menunjukkan betapa pentingnya mobilisasi pemilih bagi kedua belah pihak menjelang pemilihan yang diperkirakan akan berlangsung ketat. Dukungan dari pemilih evangelis yang loyal telah menjadi kunci kemenangan Trump dalam dua pemilihan sebelumnya. Namun, dengan pergeseran mendukung Harris, Trump harus bekerja keras untuk mempertahankan keunggulannya.

