TATELU, MINUT, Radarmanadoonline.com— Puing bangunan yang selama ini menjadi masalah lingkungan kini berubah menjadi solusi ekonomi berkat sentuhan inovasi dari tim Politeknik Negeri Manado (Polimdo). Lewat program Hilirisasi Teknologi Ramah Lingkungan, tim pengabdian masyarakat Polimdo sukses melatih warga Desa Tatelu, Minahasa Utara, memanfaatkan limbah konstruksi untuk diproses menjadi bata-beton dan paving block yang siap jual.
Program ini berlangsung pada 24 Juli 2025 dan menjadi bagian dari skema Penerapan Produk Inovasi Vokasi yang didanai internal Polimdo. Bekerja sama dengan BUMDes “Lalayaan”, tim dosen Teknik Sipil Polimdo membawa langsung teknologi sederhana pencampuran limbah beton dan pecahan keramik sebagai agregat ringan pengganti bahan konvensional.
Dari Sampah Jadi Usaha Baru
Pelatihan dimulai dari teori komposisi campuran, rasio air-semen, hingga uji kuat tekan. Warga desa kemudian mempraktikkan sendiri proses pengadukan menggunakan molen portabel, mencetak 200 bata-beton percobaan dengan cetakan manual. Sampel hasil pelatihan diuji ketahanannya menggunakan drop test dan uji rendam-kering selama 24 jam, dan hasilnya lolos standar SNI paving non-struktural.
Kepala BUMDes “Lalayaan”, didampingi perangkat desa, mengungkapkan rencana menyiapkan lahan produksi khusus seluas 6×10 meter. Target produksi awal adalah 1.000 unit bata dan paving block per minggu mulai Oktober 2025, dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan proyek pengerasan jalan lingkungan di Desa Tatelu.
Dukungan Pemerintah Desa
Sekretaris Desa Tatelu menyatakan dukungan penuh pada program ini dan siap memasukkan produk bata-beton ramah lingkungan ke dalam proyek infrastruktur desa tahun depan. Upaya ini tidak hanya mengurangi volume sampah konstruksi yang selama ini menjadi masalah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal.
Inovasi Berkelanjutan
Menurut ketua tim Polimdo, tujuan utama program hilirisasi ini adalah memastikan hasil riset kampus tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi benar-benar menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. “Model bisnis berbasis BUMDes jadi kunci keberlanjutan inovasi, sekaligus ajang praktik nyata bagi mahasiswa vokasi,” ujarnya.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Program ini diproyeksikan mampu mengurangi timbunan puing konstruksi di Minahasa Utara sekitar 15 ton per tahun (estimasi tim Polimdo), sekaligus menciptakan potensi omzet BUMDes hingga Rp12 juta per bulan dari penjualan bata-beton dan paving block. Selain manfaat ekonomi, kegiatan ini menjadi laboratorium terbuka bagi mahasiswa Teknik Sipil dan Mesin Polimdo untuk praktik green construction langsung di lapangan.
Sekilas Tentang Hilirisasi Teknologi
Hilirisasi teknologi adalah upaya menurunkan hasil riset—baik alat, metode, maupun formulasi—hingga siap digunakan atau diproduksi masyarakat luas. Dalam pendidikan vokasi, kebijakan ini didorong Kemdikbudristek agar inovasi kampus memberi dampak sosial-ekonomi nyata di daerah.
Penutup
Program di Desa Tatelu ini memperkuat citra Polimdo sebagai pelopor pendidikan vokasi berkelanjutan di Sulawesi Utara, setelah sebelumnya menorehkan prestasi sebagai politeknik peringkat dua nasional (Webometrics 2025) dan kini tengah mempersiapkan status PTN-BLU. (ivn)

