MANADO, Radarmanadoonline.com – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus turun langsung meninjau salah satu titik bencana di Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Selasa (6/12026).
Kunjungan ini menjadi bukti keseriusan Pemprov Sulut dalam menangani dampak bencana yang mengancam keselamatan warga.
Di lokasi kejadian, Gubernur Yulius menyaksikan secara langsung kondisi jalan yang tertutup bebatuan besar akibat longsoran dari Gunung Tamata.
Bebatuan tersebut tampak berserakan hingga ke badan jalan, menghambat akses dan membahayakan masyarakat.
Sejumlah alat berat jenis ekskavator pun telah diturunkan untuk membersihkan material longsor dan membuka kembali jalur transportasi.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur Yulius meminta Dinas Pekerjaan Umum untuk segera melakukan supervisi teknis dan memberikan masukan komprehensif kepada Bupati setempat terkait langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang.
“Saya sudah sarankan untuk melakukan relokasi dari lokasi bencana ini. Karena saya melihat sudah ada celah yang bisa membuat kejadian seperti ini terulang kembali,” tegas Yulius di hadapan awak media.
Tak hanya itu, Gubernur juga menekankan pentingnya peran TNI dan Polri dalam membantu masyarakat terdampak.
Ia meminta seluruh personel yang bertugas untuk tetap siaga dan hadir di tengah warga.
“Ini bentuk pengabdian kalian kepada negara,” ujar Yulius sembari memberikan penegasan dan semangat kepada aparat di lapangan.
Usai meninjau titik bencana, Gubernur Yulius melanjutkan kunjungan ke posko pengungsian serta lokasi perawatan para korban.
Di sana, ia memberikan penguatan moral dan memastikan kondisi para pengungsi dalam keadaan tercover dengan baik.
“Kondisi hari ini sama dengan yang dilaporkan. Apa yang saya lihat di lapangan sesuai, tidak ada yang dilebih-lebihkan,” ungkapnya.
Gubernur Yulius menjelaskan bahwa kawasan terdampak memang memerlukan perhatian dan penanganan khusus, termasuk penganggaran berkelanjutan.
Ia menyoroti adanya celah aliran air yang merupakan bekas sungai lama, yang sewaktu-waktu bisa kembali aktif dan memicu bencana serupa.
“Kadang ada air, kadang tidak. Saat kejadian, air tiba-tiba datang dari atas dengan sangat deras melalui jalur ini,” jelasnya.
Di pengungsian, Gubernur mencatat terdapat dua lokasi utama, yakni di gereja dan museum.
Secara umum, kondisi kesehatan para pengungsi dinyatakan baik.
Meski demikian, ia mengingatkan agar aspek psikologis korban, terutama trauma anak-anak, tetap menjadi perhatian serius.
“Mereka harus kita jaga secara psikologis. Trauma masih ada, tapi anak-anak juga harus kembali sekolah. Tidak boleh terlalu lama larut dalam peristiwa ini,” katanya.
Sementara itu, di puskesmas setempat tercatat sebanyak 15 pasien korban bencana yang tengah menjalani perawatan.
Mayoritas mengalami luka akibat terendam air, terbentur, dan terbawa arus deras.
“Ini sangat memprihatinkan. Luka-luka mereka harus mendapat perhatian serius. Kita berharap dengan perawatan intensif dari dokter dan perawat, mereka bisa cepat pulih,” tutur Gubernur Yulius.
Selain itu, dua pasien dilaporkan telah dirujuk ke Manado untuk penanganan lebih lanjut, meski sebagian besar masih dapat ditangani oleh tim medis di daerah.
Gubernur Yulius juga menyoroti kondisi cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah tersebut hingga sore hari, bahkan menyebabkan pemadaman listrik.
Ia pun langsung menginstruksikan PLN untuk menyiapkan genset di lokasi-lokasi vital yang terdampak pemutusan listrik sementara.
“Saya berharap ini segera berlalu. Hujannya sangat ekstrem, listrik mati. Saya sudah ingatkan PLN untuk membantu dengan genset,” tegasnya.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memastikan negara ada dan hadir, bekerja cepat, dan memastikan keselamatan serta pemulihan warga terdampak bencana di Kabupaten Sitaro.





