
TEHERAN, Radarmanadoonline.com-Berawal dari perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai nuklir gagal mencapai kata sepakat. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan, Iran menolak permintaan Negeri Paman Sam itu terkait penghentian program nuklir milik Teheran. Amerika pun murka. AS dan Israel sepakat kerjasama menyiapkan operasi bersandi “Operation Epic Fury” (kemarahan luar biasa). Secara rahasia, kedua negara ini sepakat menetapkan hari, tanggal, dan jam untuk melancarkan operasi Epic Fury ke Negeri Para Mullah itu. Dan, Sabtu (28/2/2026) pagi, sekitar pukul 10.00 Wita waktu setempat, sejumlah rudal ditembakkan ke ibu kota Iran, Teheran. Serangan udara gabungan AS-Israel yang dilancarkan saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa ini, mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas, di kompleks kediamannya di Teheran.


Hanya berselang 3 hari, istri Ayatollah Ali Khamenei, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh meninggal dunia setelah terluka parah dan koma juga imbas dari serangan tersebut. Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Teheran. Selain Ayatollah Ali Khamenei dan istrinya Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, turut tewas dalam serangan udara ini putri Khamenei, menantu perempuan, serta seorang cucunya. Juga ikut tewas, Komandan IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Shamkhani, Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh, Pejabat Intelijen Iran Saleh Asadi, Pejabat Penelitian Iran Hossein Jabal Amelian, Pejabat Penelitian Iran Reza Mozaffari-Nia, dan Penghubung pertahanan senior Iran Mohammed Shirazi. Operation Epic Fury disebut sebagai puncak dari kampanye intelijen jangka panjang yang melibatkan teknologi canggih dan jaringan aset manusia. Laporan media internasional, termasuk dari Financial Times, menyebut intelijen Israel telah meretas hampir seluruh kamera Lalu lintas (Lalin) di Teheran selama bertahun-tahun. Data visual tersebut dianalisis untuk membangun “pattern of life” para pejabat dan pengawal senior Iran, termasuk rute perjalanan, jadwal rutin, hingga lokasi sensitif di sekitar kompleks kepemimpinan di Jalan Pasteur. Operasi ini disebut mengandalkan kemampuan Unit 8200, divisi intelijen sinyal Israel, serta badan intelijen Mossad. Menjelang serangan, sistem komunikasi seluler di sekitar kompleks dilaporkan terganggu. Sehingga, tim pengawal tidak dapat menerima peringatan dini. Seorang pejabat intelijen Israel mengungkapkan, bahwa pengumpulan data jangka panjang memungkinkan mereka mengenali dinamika ibu kota Iran, Teheran secara detail. Sumber menyebutkan, kepastian keberadaan Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (1/3/2026) pagi, diperoleh melalui konfirmasi aset manusia yang dikaitkan dengan Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump dilaporkan, memberikan otorisasi operasi saat berada di Air Force One. Militer AS kemudian meluncurkan serangan siber untuk melumpuhkan sistem radar dan komunikasi Iran, dan membuka jalur bagi jet tempur Israel. Sekitar 30 amunisi presisi dilepaskan ke kompleks tersebut saat sejumlah pejabat senior Iran tengah berkumpul. Serangan dilakukan pada pagi hari untuk memaksimalkan kejutan taktis. Pihak militer Israel menyatakan, keputusan waktu tersebut memungkinkan tercapainya efek kejutan meskipun Iran berada dalam kondisi siaga tinggi. Amunisi yang digunakan diduga merupakan rudal jenis Sparrow yang mampu menjangkau target kecil dari jarak lebih dari 1.000 kilometer. Dikutip detikNews dari NBC News, Minggu (1/3/2026), Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, mengapresiasi serangan militer AS terhadap Iran yang disebut sebagai Operasi Epic Fury atau dalam bahasa Indonesia disebut kemarahan luar biasa. Operasi ini disebut sebagai operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah AS. “Rezim Iran memiliki kesempatan, namun menolak untuk membuat kesepakatan. Dan, sekarang mereka menanggung konsekuensinya. Selama hampir lima puluh tahun, Iran telah menargetkan dan membunuh warga Amerika, selalu mencari senjata paling ampuh di dunia untuk memajukan tujuan radikal mereka. Tadi malam, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump mulai menangani kanker ini,” kata Hegseth dalam sebuah unggahan di X. Tak berselang lama setelah pemboman itu terjadi, Presiden AS Donald Trump membuat keterangan video berdurasi 8 menit. Sepanjang durasi itu, dia menegaskan bahwa ledakan di Teheran adalah serangan AS bersama Israel. “Beberapa waktu yang lalu, militer Amerika Serikat memulai operasi tempur besar di Iran,” kata Trump mengenakan topi putih bertulisan “USA”. Pasca deklarasi Trump, Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) merilis keterangan pers di laman resminya, dengan menyebut serangan mereka ke Iran adalah bagian dari Operasi “Epic Fury”. “Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) memulai Operasi Epic Fury, 28 Februari, atas arahan Presiden Amerika Serikat,” tulis CENTCOM. Dalam keterangannya itu, CENTCOM menyebut bahwa Operasi Epic Fury dilakukan untuk menyerang target berupa fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), fasilitas pertahanan udara, fasilitas rudal dan drone, serta lapangan terbang militer. Operasi Epic Fury dilakukan AS di tengah proses negosiasi yang berlangsung antara Washington dan Teheran. Perundingan yang difasilitasi Oman itu telah berlangsung sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya berakhir sia-sia karena serangan rudal AS dan Israel. Kantor berita Fars Iran melaporkan, terjadi serangkaian ledakan di Teheran. Baik Israel maupun AS, kemudian mendeklarasikan diri bahwa serangan tersebut berasal dari rudal mereka. Ledakan-ledakan itu dijelaskan merupakan serangan dari armada perang AS yang telah dihimpun di kawasan Teluk berminggu-minggu sebelumnya. Di Teheran, ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah tempat. Fars melaporkan, ledakan di University Street dan Jomhouri di Teheran. Fars juga menyebut ada ledakan di dekat markas besar IRGC. AP juga melaporkan, bahwa kompleks kediaman dan kantor pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Distrik Pasteur terkena serangan rudal. Sementara media yang terafiliasi dengan Iran, Tasnim, menyebut ada ledakan yang juga terjadi di Sayyed Khandan, bagian utara Teheran. Tak hanya Teheran, ledakan juga dilaporkan terjadi di Kota Kermanshah, Wom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, Shiraz, Bushehr, Minab, serta di wilayah Provinsi Lorestan. Dalam video berdurasi 8 menit yang dibuat Presiden Donald Trump, memperlihatkan serangan di berbagai titik tersebut dilakukan untuk menghancurkan fasilitas dan industri rudal Iran, sehingga rata dengan tanah. Dengan begitu, Operasi Epic Fury gabungan militer AS-Israel menuai sukses besar. (cnc/ind/cnb/axm)
