Advertisement
ArtikelLifestyle

Hidup Kita Hanya Ada di Saat Ini

Filsuf Romawi Marcus Aurelius mengingatkan: masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang. Yang benar-benar kita miliki hanyalah hari ini.

Radarmanadoonline.com, MANADO — Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tanpa sadar hidup di dua tempat yang sebenarnya tidak bisa mereka sentuh: masa lalu dan masa depan.

Ada yang terus memikirkan hal-hal yang sudah terjadi.
Ada juga yang terlalu khawatir tentang apa yang belum tentu terjadi.

Padahal menurut kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik, Marcus Aurelius, satu-satunya waktu yang benar-benar dimiliki manusia hanyalah saat ini.

Dalam bukunya Meditations, ia menulis bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar kehilangan hidup selain hidup yang sedang ia jalani sekarang.

Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.

Kita Tidak Bisa Kehilangan Masa Lalu

Banyak orang menyesali keputusan yang sudah lewat.

Ada yang berpikir seandainya dulu memilih jalan berbeda.
Ada yang terus mengingat kegagalan yang pernah terjadi.

Namun dalam pandangan filsafat Stoik, masa lalu sebenarnya sudah tidak lagi berada dalam kendali kita.

Ia sudah selesai.

Karena itu, terus hidup dalam penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa dilakukan hanyalah belajar dari pengalaman itu.

Masa Depan Juga Belum Menjadi Milik Kita

Sebaliknya, banyak orang terlalu sibuk memikirkan masa depan.

Bagaimana jika rencana tidak berjalan sesuai harapan?
Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?

Padahal masa depan juga belum sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Yang bisa dilakukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin, lalu menjalani hari ini dengan penuh perhatian.

Saat Ini Adalah Satu-Satunya Waktu Nyata

Marcus Aurelius menjelaskan bahwa panjang atau pendeknya hidup sebenarnya tidak terlalu berbeda.

Mengapa?

Karena pada akhirnya setiap orang hanya menjalani satu momen pada satu waktu: momen sekarang.

Orang yang hidup 80 tahun dan orang yang hidup 30 tahun sama-sama hanya memiliki satu hal yang sama—momen yang sedang mereka jalani saat ini.

Itulah sebabnya para filsuf Stoik menekankan pentingnya hadir sepenuhnya dalam kehidupan yang sedang berlangsung.

Ketika Kita Terlalu Sibuk Mencari “Lebih”

Dalam kehidupan modern, sering kali kita merasa belum cukup.

Kita ingin keadaan menjadi lebih baik.
Kita berharap masa depan berjalan persis seperti rencana.

Tidak ada yang salah dengan harapan. Namun ketika pikiran terus berlari ke masa depan, sering kali kita justru melewatkan apa yang sedang terjadi sekarang.

Padahal bisa jadi momen yang sedang berlangsung justru merupakan bagian paling berharga dalam hidup.

Sebuah Pengingat Sederhana

Ada sebuah ungkapan populer yang sering dikaitkan dengan kartunis Amerika, Bil Keane:

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.”

Artinya, kemarin sudah menjadi sejarah, besok masih menjadi misteri, tetapi hari ini adalah hadiah.

Itulah alasan mengapa dalam bahasa Inggris kata present memiliki dua arti sekaligus: masa sekarang dan hadiah.

Langkah Sederhana untuk Lebih Hadir dalam Hidup

Menjalani hidup di masa sekarang tidak berarti mengabaikan masa depan atau melupakan masa lalu. Yang dimaksud adalah memberi perhatian pada apa yang sedang kita lakukan hari ini.

Beberapa langkah sederhana bisa membantu melatih kebiasaan ini.

1. Fokus pada satu hal yang sedang dikerjakan.
Saat bekerja, belajar, atau berbicara dengan orang lain, cobalah memberi perhatian penuh pada aktivitas tersebut.

2. Kurangi kebiasaan memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Perencanaan itu penting, tetapi terlalu banyak kekhawatiran sering hanya membuat pikiran lelah.

3. Luangkan waktu menikmati hal-hal kecil.
Percakapan dengan teman, secangkir kopi, atau waktu bersama keluarga sering kali terasa biasa saja—padahal momen seperti itu yang justru membentuk kehidupan sehari-hari.

4. Ingat bahwa waktu terus berjalan.
Hari ini mungkin terasa biasa, tetapi suatu saat nanti bisa menjadi kenangan yang berharga.

Hidup Terjadi Sekarang

Pada akhirnya, kehidupan bukan sesuatu yang terjadi di masa lalu atau masa depan.

Kehidupan selalu terjadi sekarang.

Karena itu, seperti yang diingatkan Marcus Aurelius lebih dari dua ribu tahun lalu, jika seseorang mampu menikmati dan menggunakan dengan baik momen yang sedang ia jalani, maka itu sebenarnya sudah cukup untuk sebuah kehidupan yang penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button