26.1 C
Manado
Minggu, Mei 17, 2026
spot_img
Beranda ekonomi OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Harga Minyak Global Masih Tinggi

OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Harga Minyak Global Masih Tinggi

Ilustrasi harga minyak global OPEC+ dan ketegangan pasokan energi di Selat Hormuz.

Radarmanadoonline.com, Internasional— OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni 2026, tetapi keputusan itu belum langsung meredakan kekhawatiran pasar karena pasokan global masih terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

Reuters melaporkan, keputusan tersebut diambil pada Minggu, 3 Mei 2026, dan menjadi kenaikan kuota produksi ketiga secara berturut-turut sejak gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Kenaikan itu melibatkan tujuh negara OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Dalam keterangan resminya, OPEC menyebut penyesuaian produksi sebesar 188.000 barel per hari itu akan diterapkan pada Juni 2026. Keputusan tersebut disebut sebagai bagian dari komitmen kolektif negara-negara peserta untuk mendukung stabilitas pasar minyak.(rpr)

Namun, kenaikan kuota itu dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan pasokan. Reuters menyebut tambahan produksi tersebut sebagian besar masih bersifat di atas kertas selama gangguan pasokan Teluk melalui Selat Hormuz belum pulih.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan jalur penting pengiriman energi dunia. AP News melaporkan, sekitar seperlima minyak dan gas alam dunia biasanya melewati jalur tersebut. Gangguan pada jalur ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan besar.

Baca Juga:  Polimdo dan ITC Teken MoU, Perkuat Link and Match Pendidikan Vokasi dengan Industri

Reuters juga melaporkan harga minyak telah berada di atas US$125 per barel. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, pasokan avtur, dan biaya energi global.

Bagi Indonesia, termasuk daerah kepulauan seperti Sulawesi Utara, gejolak harga minyak global perlu dicermati karena dapat berpengaruh pada biaya logistik dan transportasi. Kenaikan biaya energi berpotensi menjalar ke harga barang, ongkos distribusi, dan beban produksi pelaku usaha.

Dampak seperti ini biasanya paling cepat terasa pada sektor yang bergantung pada transportasi dan distribusi barang. Di Sulawesi Utara, biaya pengiriman antardaerah, aktivitas pelaku UMKM, hingga harga kebutuhan masyarakat dapat ikut tertekan jika harga energi global bertahan tinggi.

OPEC+ dijadwalkan kembali menilai kondisi pasar pada pertemuan berikutnya. Reuters melaporkan, kelompok tersebut akan kembali bertemu pada 7 Juni 2026 untuk mengevaluasi perkembangan pasar minyak dan kondisi pasokan global.

Bagaimana Pendapatmu?