25.1 C
Manado
Rabu, Mei 13, 2026
spot_img
Beranda Pendidikan Lebih dari Sekadar Skill Teknis: Direktur Polimdo Tekankan ‘Ketabahan’ Sebagai Kunci Karier...

Lebih dari Sekadar Skill Teknis: Direktur Polimdo Tekankan ‘Ketabahan’ Sebagai Kunci Karier Global

MANADO, Radarmanadoonline.com – Program magang internasional yang dijalankan Politeknik Negeri Manado (Polimdo) kini berevolusi menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan karakter mahasiswa. Direktur Polimdo, Mareyke Alelo, menegaskan bahwa pengalaman bekerja di Jepang bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan investasi strategis untuk mencetak lulusan yang “tahan banting” di pasar kerja global.

Dalam penyambutan mahasiswa yang kembali dari program magang di Jepang baru-baru ini, Alelo menyoroti pergeseran kebutuhan industri yang kini lebih memprioritaskan ketangguhan mental di samping kompetensi akademik.

Transformasi Mental: Mengapa ‘Ketabahan’ Menjadi Mata Uang Global?

Alelo menggarisbawahi bahwa di era disrupsi, kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Ia memperkenalkan konsep “ketabahan” sebagai soft skill utama yang didapatkan mahasiswa selama merantau dan bekerja di luar negeri.

“Anda sudah punya soft skill yang sangat dibutuhkan dunia industri yaitu ketabahan. Percuma pintar, skill-nya bagus, knowledge-nya bagus tapi gampang patah dan rapuh,” ujar Alelo dengan tegas.

Pernyataan ini mencerminkan kebutuhan industri internasional yang mencari individu dengan kemampuan adaptasi tinggi, disiplin baja, dan ketahanan dalam menghadapi tekanan kerja yang dinamis.

Baca Juga:  Kejati Sulut Edukasi Ribuan Mahasiswa Unsrat Lewat Program Jaksa Masuk Kampus

Strategi ‘Ekspansi Diri’ Melampaui Sekat Jurusan

Salah satu poin penting dalam arahan tersebut adalah dorongan bagi mahasiswa untuk tidak terjebak dalam kotak sempit program studi. Di tengah ancaman otomatisasi dan AI, fleksibilitas lintas disiplin menjadi krusial.

  • Adaptasi Lintas Bidang: Mahasiswa didorong mengembangkan diri di luar kurikulum formal.

  • Penguasaan Bahasa: Sertifikasi seperti TOEIC, kemampuan Bahasa Jepang (N-level), dan Bahasa Mandarin menjadi standar kompetensi tambahan.

  • Pola Pikir Global: Memahami budaya kerja multikultural sebagai modal mobilitas karier.

“Sebaiknya pengetahuan itu jangan hanya terbatas pada jurusan kita, tapi juga harus bisa ekspansi diri dan menjadi lebih dari sekadar jurusan kita,” tambahnya.

Kampus Tanpa Dinding: Fleksibilitas di Era Digital

Polimdo juga menunjukkan agilitas sebagai institusi pendidikan vokasi dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung mahasiswa yang berada di luar negeri. Alelo menjelaskan bahwa jarak fisik bukan lagi penghalang bagi proses akademik.

Kini, mahasiswa Polimdo dapat menjalankan ujian, bimbingan skripsi, bahkan prosesi wisuda secara daring dari negara tempat mereka magang. Hal ini membuktikan bahwa Polimdo telah bertransformasi menjadi institusi yang fleksibel dan berorientasi pada kemajuan karier mahasiswa.

Baca Juga:  Polimdo Umumkan 344 Calon Mahasiswa Baru Lolos SNBP 2026, Daftar Ulang hingga 22 April

Menangkap Peluang di Tengah Krisis Tenaga Kerja Jepang

Penyelenggaraan magang ini juga sangat relevan dengan kondisi demografi global. Jepang, yang saat ini menghadapi defisit tenaga kerja produktif akibat penurunan populasi, menjadi peluang emas bagi lulusan vokasi Indonesia.

Selain Jepang, Polimdo kini aktif memperluas kemitraan strategis ke negara-negara lain seperti:

  1. China: Fokus pada transfer teknologi dan industri manufaktur.

  2. Taiwan: Kerjasama pengembangan kompetensi teknis tingkat lanjut.

Melalui kepemimpinan Mareyke Alelo, Politeknik Negeri Manado berhasil memposisikan diri bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai jembatan bagi mahasiswa menuju ekosistem industri global. Fokus pada penguatan karakter, kemampuan bahasa, dan fleksibilitas akademik menjadi resep utama Polimdo dalam mencetak tenaga kerja masa depan yang kompetitif.

Bagaimana Pendapatmu?