27.2 C
Manado
Kamis, Juli 23, 2026
spot_img
Beranda Artikel Ketika Allah “Gantung Sepatu”_

Ketika Allah “Gantung Sepatu”_

blank

Pembacaan : Kejadian 6:8-17

Oleh : Pdt Lucy Amelia Gerret, STh

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pergelaran akbar Piala Dunia 2026 baru saja berlalu. Namun, ada satu momen emosional yang tidak akan pernah dilupakan oleh jutaan pasang mata di seluruh dunia. Momen itu adalah ketika megabintang legendaris Brasil, Neymar Jr., berjalan gontai di lapangan Stadion MetLife. Ia berlutut di atas rumput, menutup wajahnya, dan menangis tersedu-sedu setelah negaranya tersingkir. Hari itu menjadi panggung terakhirnya. Ia mengumumkan bahwa : ia gantung sepatu dari dunia sepak bola internasional.
Di hadapan puluhan mikrofon wartawan dengan mata yang berkaca-kaca, ia menyampaikan pesan perpisahan yang menyayat hati:
“Saya telah memberikan segalanya untuk jersey Selecao ini. Saya telah berlari di setiap jengkal lapangan, menahan rasa sakit, dan memeras keringat. Namun, tubuh saya memiliki batas. Hari ini, tiba saatnya bagi saya untuk melepaskan sepatu ini demi kebaikan tim, demi keluarga saya, dan demi masa depan.”
Mengapa pemain sehebat Neymar akhirnya menyerah dan memilih pensiun? Dari penjelasannya, jelas Ada rasa lelah fisik dan mental yang luar biasa. Ia kini sadar bahwa masa kejayaannya telah menyentuh batas akhir, dan ia harus menggantungkan sepatunya untuk selama-lamanya.
Saudara, Istilah “gantung sepatu”, “gantung reket”, “gantung sarung tinju” dan istilah-istilah lainnya selalu melambangkan akhir dari sebuah tindakan, berhentinya sebuah agresi, atau keputusan untuk tidak lagi menggunakan senjata utama kita.
Dan Tahukah kita, ribuan tahun lalu sebelum sejarah sepak bola dan semua cabang olahraga dimulai, Alkitab mencatat sebuah peristiwa kosmis yang sangat dahsyat, di mana Allah sendiri memilih untuk “gantung sepatu”?
Mari kita perhatikan teks kita dalam Kejadian 9:13, Allah berfirman: “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.
Dalam bahasa asli Ibrani, kata “busur” yang digunakan adalah Qeshet. Kata Qeshet dalam Perjanjian Lama hampir selalu merujuk pada busur panah perang – sebuah senjata pemusnah massal kuno yang digunakan tentara untuk menghujani musuh dengan anak panah kematian. Ketika Air Bah melanda bumi pada zaman Nuh, Allah seolah-olah sedang menarik busur perang-Nya ke arah bumi, menghujani umat manusia yang penuh dosa dengan anak panah penghakiman berupa air maut dari langit. Keadilan Allah yang kudus memang menuntut bahwa dosa harus dihukum, dan bumi saat itu sudah rusak total. Namun, mari perhatikan apa yang terjadi setelah air bah reda. Allah tidak lagi mengarahkan busur itu ke bumi. Ia menghadirkan pelangi yang Secara visual, berbentuk busur panah terbalik. Ujung busurnya tidak lagi mengarah ke bumi (ke arah manusia), melainkan mengarah ke atas (ke arah langit/ke arah Allah sendiri). Dengan meletakkan Qeshet-Nya di awan, Allah sedang berkata: “Aku gantung senjata perang-Ku. Aku pensiun dari memusnahkan bumi. Jika ada anak panah murka yang harus dilepaskan lagi di kemudian hari, panah itu tidak akan melesat ke bumi menghancurkan manusia, melainkan akan melesat ke atas, menusuk jantung-Ku sendiri. “Dan hal ini tergenapi ribuan tahun kemudian di bukit Golgota, saat Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib, menerima panah murka Allah demi menggantikan kita. Mengapa Allah melakukan itu? Karena kasih-Nya. Allah menunjukkan bahwa keadilan-Nya memang menghukum dosa, tetapi kasih-Nya selalu mencari jalan untuk memulihkan. Allah memilih untuk memelihara manusia, sekalipun Dia tahu di masa depan kita akan gagal lagi, jatuh lagi, dan mengecewakan-Nya lagi. Allah “gantung sepatu” dari murka-Nya agar kita memiliki ruang untuk menerima pengampunan.
Saudaraku, jika saat ini hatimu sedang hancur, mungkin juga kamu melihat hidup ini penuh dengan kegagalan, bahkan mungkin penuh dosa. Kamu berpikir, “Apakah Tuhan sedang menarik busur panah-Nya untuk menghancurkan hidupku karena kesalahan yang kubuat?”. Maka lihatlah pelangi kasih Allah. Allah telah gantung sepatu terhadap murka-Nya bagimu. Ia meletakkan senjata penghakiman-Nya bukan karena dirimu hebat atau tanpa cela, tetapi karena Dia sangat mengasihimu. Dia tahu kamu lemah, Dia tahu bahwa kamu juga sering gagal, tetapi fokus Allah bukanlah untuk memusnahkanmu, melainkan untuk memulihkanmu. ketahuilah bahwa Allah sedang tersenyum dan berkata: “Anak-Ku, Aku tidak sedang memusuhi dirimu. Aku telah meletakkan busur-Ku. Datanglah pada-Ku, ijinkan Aku membalut lukamu, mengampuni dosamu, dan menuntun langkahmu yang patah.”
saudaraku, Setiap kali kamu merasa tidak berharga, ingatlah senantiasa momen ketika Allah memilih untuk menghentikan murka-Nya demi memberikanmu masa depan. Dia gantung sepatu karena Dia teramat sangat mengasihimu. Jangan sia-siakan kasih yang memulihkan ini dan jadilah tenang, karena di dalam Yesus, kamu aman. Amin

Baca Juga:  Dinilai Kinerja Terbaik, Sentra Gakkumdu Sulut Raih Empat Penghargaan dari Bawaslu RI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini