RadarManado-KOTAMOBAGU — Duka akibat tragedi Drag Race di Kotamobagu belum sepenuhnya reda. Rumah-rumah keluarga korban masih diselimuti suasana kehilangan. Di tengah kesedihan itu, kepedulian terus berdatangan.
Sabtu (15/8), Gofal Fauzan Bonde (GFB) bersama tim Jendral Gold Kapu Kap’s yang diwakili Ukam Muler dari Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), menyambangi sejumlah keluarga korban.
Kedatangan mereka bukan sekadar membawa santunan. Rombongan juga ingin hadir secara langsung, duduk bersama keluarga yang tengah berduka, serta memberikan dukungan moril.
Kunjungan tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus kepedulian terhadap keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta dalam tragedi tersebut.
Jendral Gold Kapu Kap’s Gunung Bita Racing Team hadir bersama GFB dari Doloduo, Bolaang Mongondow. Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Sipatuo JR dan Reza Gold.
Bagi rombongan, bantuan yang diberikan tentu tidak akan pernah sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarga. Tidak ada santunan yang mampu menggantikan seorang anak, orang tua, saudara, maupun orang terkasih yang telah pergi.
Namun, ada pesan yang ingin mereka sampaikan: keluarga korban tidak sendirian.
“Kami datang bukan karena merasa mampu menggantikan apa yang telah hilang. Tidak ada yang bisa menggantikan orang yang kita cintai. Kami hanya ingin hadir, berbagi sedikit dengan keluarga dan memberikan dukungan agar mereka tetap kuat,” ujar GFB.
Menurutnya, dalam situasi seperti ini, dukungan moril menjadi sesuatu yang sangat penting. Keluarga membutuhkan orang-orang yang mau datang, mendengarkan, dan memberikan penguatan ketika rasa kehilangan masih begitu kuat.
Pengusaha muda asal Bolmong itu juga mengajak keluarga korban untuk terus mendoakan mereka yang telah berpulang maupun korban yang masih menjalani perawatan.
“Kami ikut mendoakan semoga saudara-saudara kita yang telah berpulang mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Untuk korban yang masih menjalani perawatan, semoga diberikan kesembuhan dan kekuatan. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan,” katanya.
Hal senada disampaikan Ukam Muler yang mewakili Jendral Gold Kapu Kap’s Gunung Bita Racing Team. Ia menyebut tragedi tersebut bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga duka kemanusiaan yang dirasakan banyak orang.
Karena itu, menurutnya, kepedulian tidak boleh berhenti ketika pemberitaan mengenai tragedi tersebut mulai mereda.
“Kami dari tim Jendral Gold Kapu Kap’s dari Ratatotok datang untuk berbagi duka, memberikan sedikit bantuan dan yang paling penting mendoakan agar keluarga diberi kekuatan menghadapi semua ini,” ujar Ukam.
Ia berharap santunan yang diberikan dapat sedikit membantu kebutuhan keluarga, meskipun nilainya tidak akan pernah sebanding dengan kehilangan yang mereka alami.
Suasana haru terasa ketika rombongan bertemu dengan keluarga korban. Cerita tentang orang yang telah pergi kembali terucap. Nama-nama korban masih disebut dalam doa, sementara kursi dan ruang di rumah yang dahulu diisi orang tercinta kini menyisakan kenangan.
Di tengah suasana tersebut, rombongan tidak hanya menyerahkan bantuan. Mereka juga memberikan penguatan agar keluarga tetap tegar menghadapi hari-hari setelah tragedi.
Doa juga terus dipanjatkan bagi korban yang masih menjalani perawatan. Harapannya, mereka diberikan kesembuhan, kekuatan, dan kesempatan untuk kembali berkumpul bersama keluarga.
Kunjungan GFB dan Jendral Gold Kapu Kap’s menjadi bagian dari rangkaian solidaritas terhadap korban tragedi Drag Race di Kotamobagu. Sebelumnya, sejumlah pihak juga telah mendatangi rumah duka maupun rumah sakit untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada korban serta keluarga.
Bagi keluarga korban, santunan mungkin tidak akan menghapus air mata. Namun kehadiran orang-orang yang datang dengan niat tulus, duduk bersama, memberikan penguatan, dan mendoakan mereka dapat menjadi sedikit cahaya di tengah kehilangan yang begitu dalam.
Sebab, ketika sebuah tragedi merenggut nyawa, yang tersisa bukan sekadar angka dalam laporan. Ada keluarga yang harus belajar menjalani hari tanpa sosok yang mereka cintai.
Dan di tengah duka itu, mungkin salah satu hal yang paling mereka butuhkan adalah keyakinan bahwa mereka tidak ditinggalkan sendirian.

