Setiap hari kita hidup dengan teknologi.
Bangun tidur cek handphone. Kerja pakai laptop. Belajar pakai internet. Menulis dibantu AI. Belanja pakai Shopee. Cari jalan, Google Maps. Bahkan untuk bertanya hal sederhana pun, langsung tanya Google atau lebih canggih lagi tanya AI.
Dari luar, hidup kita terlihat sangat futuristik.
Tapi ada satu pertanyaan yang selalu diabaikan: apakah kita benar-benar menguasai teknologi, atau hanya menjadi pengguna teknologi yang dibuat orang?
Pertanyaan ini penting. Sebab bangsa yang maju tidak hanya ditandai oleh banyaknya orang yang memakai internet, gadget, aplikasi, atau kecerdasan buatan. Kemajuan sebuah bangsa terlihat saat ia mampu menciptakan pengetahuan, membangun riset, mengembangkan teknologi, kemudian menjadi problem solving dari masalahnya sendiri.
“The computer is a bicycle for the mind.”
— Steve Jobs
Quote itu menarik, karena komputer dan teknologi seharusnya membuat pikiran manusia bergerak lebih jauh. Bukan membuat manusia berhenti berpikir.
Jangan Samakan Bisa Pakai dengan Bisa Menciptakan. Itu Jelas Berbeda!
Memang benar bisa menggunakan teknologi adalah hal penting.
Namun, itu baru langkah awal.
Orang yang bisa memakai AI untuk membuat tulisan belum tentu memahami cara menyusun gagasan. Orang yang bisa memakai aplikasi desain belum tentu memahami prinsip visual. Orang yang bisa memakai marketplace belum tentu memahami produksi, rantai pasok, data konsumen, dan strategi bisnis.
Ibarat masuk restoran, kita bisa menikmati makanan yang enak. Tapi menikmati makanan berbeda dengan memahami cara memasak, memilih bahan, mengatur dapur, menghitung biaya, dan membangun usaha kuliner.
Begitu juga teknologi.
Kita bisa memakai aplikasi. Tapi belum tentu memahami “dapur” di balik aplikasi itu: data, algoritma, riset, desain sistem, infrastruktur, dan cara berpikir yang melahirkannya.
Di sinilah letak masalahnya. Kita sering merasa sudah maju hanya karena berada di dekat teknologi. Padahal, dekat saja bukan berarti kita mampu menciptakan teknologi.
Indonesia Memang Sudah Terhubung, Tapi Itu Belum Cukup
Data BPS menunjukkan bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka ini naik dari 69,21 persen pada 2023. Artinya, makin banyak masyarakat Indonesia yang terkoneksi dengan dunia digital.
Ini kabar baik.
Tetapi akses internet tidak otomatis melahirkan pengetahuan. HP di tangan tidak otomatis membuat seseorang lebih kritis. AI yang mudah digunakan tidak otomatis membuat orang lebih paham dengan masalah.
Internet bisa menjadi ruang belajar. Tapi internet juga bisa menjadi tempat orang hanya menghabiskan waktu untuk scroll, belanja, marah, bandingkin diri sendiri dengan versi terbaik dari kehidupan orang lain yang tampil di sosial media, atau mengejar hiburan tanpa arah yang jelas.
Jadi, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita punya akses teknologi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: akses itu dipakai untuk apa?
Untuk belajar atau hanya untuk hiburan?
Untuk mencipta atau hanya untuk mengonsumsi?
Untuk memahami dunia atau sekadar mengikuti tren?
“Technology is best when it brings people together.”
— Matt Mullenweg
Tetapi dalam konteks bangsa, teknologi tidak cukup hanya membuat orang terhubung. Teknologi harus membuat masyarakat lebih mampu belajar, bekerja, mencipta, dan menyelesaikan masalah.
AI Bisa Membuat Kita Produktif, Tapi Juga Bisa Membuat Kita Dangkal
Hari ini, AI menjadi salah satu contoh paling jelas.
Dengan AI, orang bisa menulis lebih cepat, membuat ide lebih banyak, merangkum dokumen, membuat gambar, menyusun laporan, bahkan membantu membaca data. Pemerintah Indonesia juga tengah mendorong strategi nasional AI untuk menarik investasi dan memperkuat posisi dalam industri AI serta semikonduktor. Namun, Reuters mencatat bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur dan kekurangan tenaga terampil untuk memimpin pengembangan AI.
Ini menunjukkan satu hal: memakai AI jauh lebih mudah daripada membangun ekosistem AI.
Kalau AI hanya dipakai untuk menyalin jawaban, kita hanya menjadi operator.
Kalau AI dipakai untuk bertanya lebih tajam, memeriksa data, membangun metode, dan mempercepat riset, barulah teknologi itu menjadi alat berpikir.
Perbedaannya besar.
Yang pertama membuat kita tampak cepat. Yang kedua membuat kita benar-benar berkembang.
Daya Saing Digital Tidaklah Cukup Jika Hanya Dibangun dari Konsumsi
Indonesia memang pasar digital besar. Tetapi pasar besar bukan jaminan daya saing tinggi.
IMD World Digital Competitiveness Ranking 2025 mengukur kapasitas dan kesiapan 69 ekonomi dalam mengadopsi serta mengeksplorasi teknologi digital untuk transformasi ekonomi, pemerintahan, dan masyarakat. Dalam pemberitaan Kontan, peringkat Indonesia disebut turun dari posisi 43 ke 51 pada 2025. Indikator talenta juga turun tajam ke posisi 50, termasuk pada aspek keahlian digital/teknologi, pengalaman internasional, periset wanita, serta penyerapan tenaga kerja teknikal dan ilmiah.
Data ini harus dibaca sebagai peringatan.
Kita bisa ramai memakai teknologi, tetapi belum tentu kuat dalam menciptakan nilai dari teknologi.
Kita bisa punya banyak pengguna internet, tetapi belum tentu punya cukup peneliti, teknisi, analis data, programmer, inovator, dan pembuat kebijakan yang memahami teknologi secara mendalam.
Inilah perbedaan antara menjadi pasar digital dan menjadi bangsa inovatif.
“The best way to predict the future is to invent it.”
— Alan Kay
Kalimat ini terasa relevan. Masa depan tidak cukup ditunggu. Masa depan harus dibangun. Dan untuk membangunnya, bangsa perlu pengetahuan, riset, keberanian mencoba, serta kemampuan memperbaiki kesalahan.
Bangsa Maju Membangun Pengetahuan, Bukan Hanya Mengimpor Alat
Bangsa yang kuat tidak hanya membeli alat.
Mereka membangun Keahlian.
Mereka meneliti, menguji dan menulis metode. Mereka membangun sistem dan terus memperbaiki proses, sehingga lahirlah produk baru. Pengetahuan diubah menjadi kebijakan, industri, dan solusi.
Jika kamu pernah membaca buku Ray Dalio dengan judul Principles, Dalio memberikan pelajaran menarik soal ini. Ia tidak memandang komputer sekadar sebagai alat kerja. Ia menulis prinsip, menguji logika keputusan, mempelajari data historis, lalu membangun sistem yang membantu manusia mengambil keputusan secara lebih objektif. Sederhananya, teknologi dipakai untuk memperkuat cara berpikir, bukan menggantikannya.
Ini penting untuk kita.
Daripada sekadar bertanya, “Teknologi apa yang bisa aku pakai untuk membantu menyelesaikan masalahku?”
Coba bertanya:
Masalah apa yang bisa kupahami dengan lebih baik melalui teknologi ini?
Pengetahuan apa yang bisa aku bangun?
Sistem apa yang bisa aku perbaiki?
Solusi seperti apa yang bisa kuciptakan agar lingkunganku menjadi lebih baik?
Momentum Riset Harus Jadi Kesempatan
Ada kabar baik. Pemerintah menaikkan pagu pendanaan riset 2026 menjadi Rp12 triliun dari sebelumnya Rp8 triliun. Tambahan ini ditujukan untuk memperkuat riset universitas, termasuk kolaborasi dengan BRIN. Meskipun Klarifikasi terbaru dari Kemdiktisaintek menjelaskan bahwa angka Rp 8 triliun merupakan total pendanaan riset yang telah terkonfirmasi, sementara skema tambahan lain masih dalam proses dan akan diumumkan bertahap. Namun melihat ada perhatian dari pemerintah terkait hal ini, sudah menjadi kabar baik.
Namun yang perlu kita perhatikan adalah sebesar apa pun anggaran riset yang disediakan oleh pemerintah, itu baru baru bermakna jika menghasilkan dampak.
Riset tidak boleh berhenti sebagai laporan yang disimpan di rak. Kampus tidak boleh hanya mengejar administrasi. Sekolah vokasi tidak boleh hanya mengajarkan cara memakai alat, tetapi juga cara memahami, merawat, memodifikasi, dan menciptakan solusi.
Daerah juga perlu masuk dalam percakapan ini.
Di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan kawasan Indonesia Timur, teknologi harus membantu persoalan nyata: pendidikan, pertanian, perikanan, UMKM, pariwisata, kesehatan, transportasi, dan layanan publik.
Kalau teknologi hanya banyak digunakan di kota besar, maka digitalisasi akan memperlebar jarak. Tetapi kalau pengetahuan dibangun dari masalah lokal, teknologi bisa menjadi jalan pemerataan.
“Knowledge is power.”
— Francis Bacon
Dalam konteks hari ini, pengetahuan bukan hanya kekuatan pribadi. Pengetahuan adalah kekuatan bangsa. Bangsa yang memiliki pengetahuan bisa mengambil keputusan lebih baik, membangun industri lebih kuat, dan tidak mudah bergantung pada pihak lain.
Jangan Puas Menjadi Konsumen
Kita tidak perlu menolak teknologi dari luar.
Tidak ada bangsa yang benar-benar tumbuh sendirian. Semua bangsa belajar, meniru, mengadaptasi, lalu mengembangkan.
Yang berbahaya adalah ketika kita berhenti sebagai konsumen.
Kita memakai aplikasi buatan luar, tetapi tidak belajar membangun aplikasi sendiri.
Kita memakai AI, tetapi tidak membangun kemampuan riset.
Kita belanja di marketplace, tetapi tidak memperkuat produksi lokal.
Kita memakai data, tetapi tidak membangun budaya membaca data.
Kita bicara transformasi digital, tetapi masih lemah dalam talenta, riset, dan tata kelola.
Kalau begitu, teknologi hanya membuat kita terlihat modern, bukan benar-benar mandiri.
Anak Muda Harus Naik Kelas
Generasi kita punya peluang besar.
Kita tumbuh bersama internet, terbiasa belajar cepat, dan tidak asing dengan teknologi. Tetapi keunggulan itu bisa hilang jika hanya dipakai untuk ikut tren. Terlalu takut ketinggalan atau FOMO.
Anak muda Indonesia perlu naik kelas.
Dari pengguna menjadi pembelajar, dari pembelajar menjadi pencipta, dari pencipta menjadi pemecah masalah.
Tidak semua orang harus menjadi ilmuwan. Tidak semua orang harus menjadi programmer. Tidak semua orang harus membangun startup.
Tetapi semua orang bisa membangun cara berpikir yang lebih produktif.
Mulailah dengan mengajukan pertanyaan dengan tepat, membaca lebih dalam, memeriksa sumber. Pahami data, catat prosesnya, uji setiap ide kemudian bagikan pengetahuan kamu. Hasilkan karya yang menyelesaikan masalah, bukan sekadar mencari perhatian.
“Stay hungry, stay foolish.”
— Steve Jobs
Rasa lapar untuk belajar dan keberanian untuk mencoba adalah modal penting. Sebab pencipta pengetahuan bukan orang yang selalu tahu jawabannya sejak awal, tetapi orang yang tidak berhenti mencari, menguji, dan memperbaiki.
Penutup
Jangan terlalu cepat merasa hebat hanya karena kita bisa memakai teknologi terbaru.
Bisa memakai teknologi adalah keterampilan dasar. Tetapi menciptakan pengetahuan adalah langkah yang lebih tinggi.
Bangsa maju tidak hanya punya banyak pengguna internet. Bangsa maju punya budaya riset, keberanian berpikir, kemampuan menguji gagasan, dan keseriusan membangun solusi.
Teknologi bisa membuat hidup lebih cepat.
Tetapi pengetahuan membuat bangsa berdiri lebih kuat.
Maka, pertanyaan penting untuk kita hari ini bukan hanya:
Aplikasi apa yang kita pakai?
Tetapi:
Pengetahuan apa yang sedang kita ciptakan?





