Kamu pernah tidak melihat berita aneh di media sosial, lalu banyak orang langsung percaya?
Misalnya ada kabar yang katanya “pasti benar” karena disampaikan oleh orang terkenal. Atau cerita mistis yang viral, lalu dianggap sebagai bukti tanpa diperiksa lagi. Atau hoaks kesehatan yang menyebar cepat karena bahasanya terdengar meyakinkan.
Masalahnya bukan hanya karena informasinya salah.
Masalah yang lebih besar adalah: kita sering malas memeriksa.
Di sinilah pemikiran Tan Malaka dalam Madilog terasa sangat relevan. Ia mengkritik cara berpikir yang terlalu mudah menyerahkan jawaban kepada hal mistis, takhayul, atau kepercayaan tanpa bukti. Dalam Madilog, Tan Malaka menyebut pentingnya meninggalkan “logika mistika” dan mulai membangun cara berpikir yang berdasarkan benda, bukti, dan kenyataan.
Apa Itu Logika Mistika?
Istilah ini memang terdengar berat.
Tapi sebenarnya sederhana.
Logika mistika adalah cara berpikir yang menjelaskan sesuatu tanpa bukti yang jelas. Sesuatu dianggap benar hanya karena “katanya begitu”, “sudah dipercaya dari dulu”, atau “banyak orang bilang begitu”.
Contohnya begini.
Kalau seseorang sakit, lalu langsung dianggap terkena hal gaib tanpa pemeriksaan medis, itu logika mistika.
Kalau bisnis gagal, lalu langsung menyalahkan hari sial tanpa mengevaluasi strategi, itu logika mistika.
Kalau informasi viral langsung dipercaya hanya karena banyak yang membagikan, itu juga bentuk logika mistika versi digital.
Dulu bentuknya mungkin takhayul.
Sekarang bentuknya bisa berupa hoaks, teori konspirasi, atau konten viral yang dibungkus seolah-olah ilmiah.
Dunia Digital Membuat Logika Mistika Makin Canggih
Dulu, takhayul menyebar dari mulut ke mulut.
Sekarang, takhayul bisa menyebar lewat video pendek, grup WhatsApp, TikTok, Facebook, dan potongan narasi yang dibuat dramatis.
Bedanya, sekarang tampilannya lebih meyakinkan.
Ada backsound tegang.
Ada caption besar.
Ada wajah orang yang bicara dengan penuh percaya diri.
Ada kalimat seperti: “Yang tidak percaya akan menyesal.”
Akhirnya, banyak orang merasa itu benar karena dikemas dengan sangat meyakinkan.
Padahal tampilan yang meyakinkan belum tentu berisi kebenaran.
Ibarat makanan cepat saji, kemasannya bisa terlihat menarik. Tapi tetap perlu dilihat isinya, gizinya, dan dampaknya bagi tubuh.
Begitu juga informasi. Jangan hanya lihat kemasannya. Periksa isinya.
Tan Malaka Mengajak Kita Bertanya: Apa Buktinya?
Salah satu pesan penting Madilog adalah keberanian untuk bertanya.
Bukan bertanya untuk sok pintar.
Bukan juga bertanya untuk merendahkan keyakinan orang lain.
Tapi bertanya supaya kita tidak mudah ditipu.
Pertanyaan paling sederhana adalah:
Apa buktinya?
Kalau ada berita viral, tanyakan: sumbernya dari mana?
Kalau ada klaim kesehatan, tanyakan: apakah ada penjelasan medisnya?
Kalau ada orang menjanjikan investasi pasti untung, tanyakan: risikonya apa?
Kalau ada isu politik yang sengaja dibuat panas, tanyakan: siapa yang diuntungkan?
Pertanyaan seperti ini adalah rem pikiran.
Tanpa rem, pikiran kita bisa melaju ke mana-mana. Sama seperti motor tanpa rem, kelihatannya cepat, tapi sangat berbahaya.
Generasi Muda Jangan Jadi Korban Narasi Viral
Milenial dan Gen Z hidup di tengah banjir informasi.
Setiap hari, kamu bukan hanya membaca berita. Kamu juga diserang oleh opini, promosi, drama, gosip, iklan, dan algoritma.
Masalahnya, algoritma tidak selalu memberi kamu kebenaran.
Algoritma sering memberi kamu apa yang membuat kamu betah menatap layar.
Kalau kamu suka konten marah-marah, konten serupa akan muncul lagi.
Kalau kamu sering menonton teori konspirasi, video sejenis akan terus didorong.
Kalau kamu suka drama, drama lain akan datang tanpa diminta.
Akhirnya, kamu bisa merasa dunia memang seperti yang muncul di layar HP-mu.
Padahal layar HP bukan dunia. Itu hanya potongan dunia yang dipilihkan oleh sistem.
Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi penting.
Tidak Semua yang Lama Itu Salah, Tapi Semua Tetap Perlu Diperiksa
Kita tidak perlu membenci tradisi.
Tidak semua cerita lama salah.
Tidak semua kebiasaan leluhur harus ditinggalkan.
Namun, kita harus bisa membedakan mana nilai budaya dan mana klaim yang perlu dibuktikan.
Misalnya, tradisi gotong royong jelas punya nilai sosial.
Nasihat orang tua agar hidup hati-hati juga penting.
Tetapi kalau ada klaim yang menyangkut kesehatan, keselamatan, uang, pendidikan, atau masa depan, jangan hanya bergantung pada “katanya”.
Periksa.
Cari data.
Bandingkan sumber.
Gunakan akal sehat.
Inilah yang membuat pemikiran Tan Malaka tetap hidup sampai sekarang. Ia tidak sekadar mengajak orang menolak takhayul, tetapi mengajak orang Indonesia membangun kebiasaan berpikir.
Hoaks Adalah Takhayul Modern
Kalau dulu orang takut pada cerita tanpa bukti, sekarang banyak orang takut pada informasi tanpa data.
Bedanya, hoaks modern memakai bahasa yang lebih rapi.
Kadang memakai istilah ilmiah.
Kadang memakai potongan video.
Kadang memakai nama tokoh.
Kadang memakai grafik yang terlihat serius.
Tapi kalau tidak bisa diverifikasi, tetap saja berbahaya.
Hoaks adalah takhayul yang memakai baju digital.
Ia tidak selalu datang dalam bentuk cerita hantu. Ia bisa datang dalam bentuk pesan kesehatan palsu, investasi bodong, propaganda politik, atau teori konspirasi yang membuat orang saling curiga.
Karena itu, melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau media.
Melawan hoaks dimulai dari kebiasaan kita sendiri.
Jangan langsung percaya.
Jangan langsung bagikan.
Jangan langsung marah.
Berhenti sebentar. Periksa dulu.
Berpikir Ilmiah Tidak Membuat Hidup Jadi Kaku
Ada orang yang mengira berpikir ilmiah berarti hidup jadi dingin, kaku, dan tidak punya rasa.
Padahal tidak begitu.
Berpikir ilmiah justru membantu kita lebih bijak.
Kita tetap boleh punya perasaan. Kita tetap boleh menghormati budaya. Kita tetap boleh percaya pada nilai spiritual.
Tetapi ketika menghadapi masalah nyata, kita perlu memakai cara berpikir yang tepat.
Kalau sakit, periksa medis.
Kalau bisnis turun, evaluasi data.
Kalau nilai jelek, lihat cara belajar.
Kalau informasi viral, cek sumber.
Kalau masyarakat punya masalah, cari akar persoalannya.
Ibarat memakai payung saat hujan. Berdoa boleh, berharap boleh, tapi tetap perlu membawa payung.
Begitu juga hidup. Keyakinan boleh ada, tetapi tindakan tetap harus berpijak pada kenyataan.
Anak Muda Perlu Punya Radar Kritis
Di era digital, kamu perlu punya radar.
Radar itu bukan alat fisik, tapi kebiasaan mental untuk mendeteksi informasi yang mencurigakan.
Tanda-tandanya biasanya seperti ini:
- Judulnya terlalu provokatif.
- Isinya membuat takut berlebihan.
- Tidak ada sumber jelas.
- Memaksa kamu segera membagikan.
- Menggunakan kata-kata seperti “pasti”, “terbukti”, atau “semua orang harus tahu” tanpa data kuat.
- Menyerang emosi lebih dulu sebelum memberi bukti.
Kalau menemukan informasi seperti itu, jangan langsung ikut arus.
Berhenti.
Tarik napas.
Cek ulang.
Anak muda yang cerdas bukan yang paling cepat komentar, tetapi yang paling hati-hati sebelum percaya.
Penutup
Tan Malaka melalui Madilog mengingatkan bahwa bangsa yang ingin maju harus berani meninggalkan cara berpikir yang kabur, malas memeriksa, dan mudah percaya tanpa bukti.
Pesan itu masih sangat penting hari ini.
Sebab tantangan kita bukan hanya takhayul lama, tetapi juga takhayul baru yang hadir dalam bentuk hoaks, konten viral, teori konspirasi, dan informasi palsu yang menyamar sebagai kebenaran.
Jadi, sebelum kamu percaya pada sesuatu, tanyakan dulu:
Apa buktinya?
Sebelum kamu membagikan sesuatu, tanyakan dulu:
Apakah ini benar atau hanya membuat orang panik?
Dan sebelum kamu ikut marah karena satu konten viral, tanyakan dulu:
Apakah aku sedang berpikir, atau hanya sedang digerakkan oleh algoritma?
Karena di zaman sekarang, kemampuan berpikir kritis bukan lagi pilihan.
Itu kebutuhan.





