Mayjen Rano: Pemuda Indonesia Harus Bertransformasi Dgital

MANADO- Para pemuda Indonesia harus bertransformasi digital serta harus mempeloporinya. Sebab, perang ke depan mungkin masih ada perang fisik, tapi lebih banyak telah berubah menjadi perang cyber. Bahkan, banyak kejahatan yang juga telah dilakukan secara cyber, sehingga disebut cyber crime. Dimana, perang saat ini di negara-negara maju sudah dilakukan oleh robot dan Artificial Intelligence (AI) yang disebut cyber war. “Nah, apakah pemuda-pemuda kita telah siap untuk bertransformasi digital, inilah perjuangan kita dalam rangka memperingati momentum Kebangkitan Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang sebentar lagi akan kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda,” kata Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lembaga Ketahanan Nasional (Tajar Lemhannas) Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, S.E didampingi Nyong Sulut 1987 Ferry Pioh,SH saat dimintai tanggapannya terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-95, pada tanggal 28 Oktober 2023, di Swissbell Hotel, Rabu (18/10) malam. Mayjen TNI Rano Tilaar yang juga Nyong Sulut 1988 itu mengatakan, untuk momentum Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap 28 Oktober, bila dilakukan flashback (kilas balik) terhadap lintasan sejarah, maka kita semua sudah mengetahui bahwa pada tanggal tersebut adalah momen di mana para pemuda berkumpul untuk yang kedua kalinya. “Berhubung pada kongres pertama tahun 1926 tidak terjadi kegiatan yang terlalu signifikan dari hasil kongres itu,” lanjutnya. Menurutnya, yang paling signifikan justru pada saat kongres kedua pada tahun 1928. “Pada saat itulah pemuda-pemuda kita memperdengarkan “Lagu Indonesia Raya” yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman. Kemudian pada kongres kedua itu pula, lebih banyak dihadiri oleh pemuda-pemuda dari seluruh Nusantara. Seperti antara lainnya adalah Jong Sumatera, Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes dan masih banyak lagi,” ujar suami Tanya Tengker, SE, M.B.A dan ayah dari Dennis dan Nadina serta Darren. Dikatakan oleh mantan Wakil Kepala Pusat Penerangan (Waka Puspen) TNI ini, bahwa meskipun kala itu Jong Papua belum ada akan tetapi terdapat 2 orang Pemuda asal Papua yang turut serta didalamnya, walaupun saat itu mereka masih menjadi bagian dari Jong Ambon. Karena, kala itu wilayah Papua adalah otoritas dari Kesultanan Maluku. “Jadi sebutan Papua belum mewakili suatu pemerintahan yang otonom seperti sekarang ini,” sambungnya. Masih menurutnya, selain itu dalam kesempatan tersebut mereka juga membuat dan mendeklarasikan suatu komitmen yang disebut “Sumpah Pemuda”, dimana hal itu adalah semacam deklarasi bahwa di dalam (kongres kedua, red) itu mereka telah diikat oleh rasa nasionalisme dengan memiliki bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia, memiliki tanah air yang satu yaitu tanah air Indonesia bahkan kemudian sudah berani menyatakan sebagai suatu bangsa yaitu Bangsa Indonesia. Pendapat Mayjen Rano itu adalah momentum yang sangat berarti. “Berhubung perjuangan-perjuangan sebelumnya hanya dilakukan secara kedaerahan. Sehingga, mau sehebat apapun perjuangan tersebut dilakukan, akan mudah dipatahkan oleh kolonialis Belanda pada saat itu,” tuturnya.
Mantan Kepala Staf Garnizun (Kasgar) Ibu Kota Jakarta ini, mencontohkan antara lain adalah Perang Diponegoro yang terjadi tahun 1825 sampai 1830 yang berlangsung sangat heroik namun bisa dipadamkan. Kemudian, ada perang di Makassar yang dilancarkan oleh Sultan Hasanudin juga bisa dipatahkan oleh kolonialis Belanda. Kemudian, perang di Maluku yang dipimpin oleh Thomas Matulessy juga berakhir sama saja. Perang Sumatera di Tanah Batak yang dilakukan oleh Sisingamangaraja juga akhirnya bisa pula dipatahkan. “Jadi, mudah dipatahkan, mudah dipadamkan karena bersifat kedaerahan serta berjuang sendiri-sendiri. Nah, setelah tercetus Sumpah Pemuda ada komitmen dari para pemuda ketika itu untuk menciptakan suatu bangsa yaitu bangsa Indonesia dengan mencita-citakan lahirnya suatu negara yaitu negara Indonesia dengan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia,” ujarnya. Maka ini menurutnya, dapat dilihat sebagai suatu keberhasilan dalam mengkonsolidasikan suatu perjuangan. Sehingga, selanjutnya terjadi perubahan pola perjuangan yang kemudian bergerak secara nasional. Dimana, pasca Sumpah Pemuda lahirlah organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan. Seperti Syarekat Islam, PNI Marhaenis, Indische Partij dan lain sebagainya. “Dimana jelas, ini jadi semacam starting point (titik awal) untuk orang Indonesia yang sudah menjadi bangsa Indonesia untuk bergerak mewujudkan kemerdekaannya. Kemudian, bagaimana nilai-nilai kejuangan tersebut seharusnya mempengaruhi generasi muda kita, inilah yang seharusnya menjadi “trigger” bagi pemuda-pemuda kita. Sehingga, mereka dapat mempelopori semua upaya-upaya dalam rangka meningkatkan kualitas serta harkat hidup bangsanya,” kata alumni Lemhannas RI yang juga mantan Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Mako Kopassus (2009). Dari kronologis diatas, Rano mengajak kita untuk bisa menangkap suatu Refleksi yang menggambarkan bahwa kebangkitan daripada suatu bangsa ternyata sangat dipelopori oleh semangat dari para pemuda sebagai motornya. “Saya pernah membaca tentang sejarah restorasi Jepang yang dikenal dengan Restorasi Meiji. Hal ini bercerita tentang para pemuda-pemuda Jepang yang disekolahkan ke luar negeri yang mana sekembalinya mereka kenegaranya, mereka lalu membangun bangsanya menjadi negara industri yang maju. Sehingga, bangsa (Jepang, red) itu bisa berkompetisi dengan negara-negara yang lebih dahulu maju seperti di Eropa. Saya pernah juga membaca tentang sejarah Turki, dimana para pemuda Turki yang disekolahkan ke Eropa Barat saat itu, ketika kembali ķe negaranya maka mereka lalu membangun negeri mereka. Dan seperti kita ketahui bahwa memang Turki itu adalah salah satu negara maju ketika abad 17 tapi masih belum sekuler. Pemuda-pemuda itulah yang kemudian menghimpun pemuda-pemuda di (Turki, red) sana untuk membangun negerinya dengan semangat sekulerisme. Tidak melihat agama, etnis dan perbedaan lainnya. Akhirnya, mereka bangkit menjadi negara maju. Demikian juga nilai-nilai itu harusnya pula diadopsi oleh para pemuda kita pada saat ini. Namun, mungkin jenis perjuanganya yang agak berbeda. Kalau dulu kita melawan bangsa asing untuk memerdekakan diri, tetapi kalau sekarang ini ya kita cenderung melawan sesama bangsa sendiri yang berupaya menghidupkan kembali ideologi-ideologi lain selain Ideologi Pancasila,” ungkapnya. Rano juga menyinggung tentang era digitalisasi saat ini, setelah terjadinya revolusi industri 4.0 yang disebut era internetisasi, dimana semua sudah bertransformasi digital termasuk transaksi ekonomi yang sudah dilakukan secara digitalisasi. “Media pun sudah bertransformasi digital. Dimana dulu zaman kita hanya ada koran-koran fisik, majalah-majah fisik. Sekarang semuanya berubah menjadi e-paper. Kemudian, kalau dulu ada yang namanya televisi dan radio. Tetapi anak-anak sekarang tidak lagi mendengar radio dan menonton televisi dimana mereka hanya menonton youtube dan podcast. Sehingga, setiap saat mereka bisa menyaksikannya di Gadget tanpa harus menunggu jam tayangnya,” urainya. Masih menurut Rano, harus pula disadari bahwa masyarakat Indonesia saat ini baru sampai pada tahap masyarakat yang komputerisasi. Artinya, baru paham menggunakan komputer tetapi belum mampu sampai kepada memberdayakannya sampai semaksimal mungkin. “Artinya, kalau hanya sekedar menyalakan komputer kemudian membuat powerpoint, membuat slide atau membuat presentasi di powerpoint mungkin bisa. Tapi, untuk bisa menjadi masyarakat yang telah bertransformasi digital seperti di luar negeri, yang saya lihat di (luar negeri, red) sana anak-anak muda sudah bisa membuat aplikasi dan blogger, bahkan sudah bisa mencuri data orang lain yang dikenal dengan kejahatan cyber. Nah, yang seperti ini kita belum sampai ke sana,” ungkap Komandan Korem (Danrem) 052/Wijayakrama (2021). Selanjutnya, menaggapi kesuksesan Nona Manado 2022 Audrey Vanessa Susilo yang meraih gelar Miss Indonesia 2022 sekaligus mewakili Indonesia di pemilihan Miss World 2022/2023 di India. Dia mengatakan salut dengan prestasi Audrey. “Dan, secara pribadi, saya menyampaikan selamat kepada Audrey. Namun mohon maaf, saya punya perspektif yang berbeda. Artinya, di sini kita dihimpun melalui organisasi yang sebut INNS (Ikatan Nyong‐Noni Sulut). Menurut saya, para anggota organisasi Nyong dan Noni Sulut itu cita-citanya jangan hanya ingin menjadi salah satu peserta kontes yang lebih tinggi di tingkat nasional ataupun internasional. Itu mungkin berlaku untuk Noni Sulut-nya. Mungkin mereka (Noni Sulut, red) bisa ikut kontes yang lebih tinggi seperti Puteri Indonesia, Miss Indonesia dan bisa lanjut lagi ke tingkat Internasional menjadi Miss World. Walaupun tidak demikian dengan Nyong atau laki-lakinya, tidak ada kontes tersebut untuk para laki-laki. Sehingga, bila ditinjau dari namanya Nyong-Noni Sulut dari sejak dulu menurut hemat saya, kita itu justru didoktrin untuk menjadi duta wisata. Sehingga, duta wisata ini harus membuktikan bahwa kita ini tidak saja menjual yang namanya beauty dan handsome nya saja, tapi kita juga harus bisa menjual yang namanya brain,” tuturnya. Rano bercerita, beberapa waktu lalu peserta pemilihan Nyong-Noni Sulut 2023 sempat melakukan audensi ke Jakarta. Waktu itu sempat dilaksanakan kumpul-kumpul dengan INNS Komisariat Jabodetabek. Ketika Rano memberikan pengarahan di depan mereka, dia menyampaikan bahwa mereka ini sesungguhnya adalah duta wisata. Jadi, yang ditampilkan seharusnya bukan saja beauty atau handsome saja, tapi juga harus brainnya yang terpenting dan terutama. Bahkan kemudian, dia menunjukan beberapa senior-senior mereka yang juga anggota INNS Komisariat Jabodetabek yang berprofesi sebagai dokter. Dimana patut dibanggakan bahwa ternyata yang hadir di situ mayoritas adalah para mantan Nyong Noni Sulut yang berprofesi sebagai dokter. Ada dokter Keke Kaunang, dokter Maya Waloni, dokter Denny Manopo, dokter John Lumopa, dan dokter Lidya Tulus yang hadir juga pada saat itu. “Saya katakan, itu sebagai bukti bahwa yang dijual itu bukan saja beauty dengan handsome tapi juga brain. Bahkan, pada saat (audensi, red) itu hadir pula Kapten Korompis yang adalah seorang kapten kapal yang handal,” ungkapnya. Pada kesempatan tersebut, Rano juga menyampaikan bahwa mungkin dia adalah satu-satunya Nyong Sulut yang memilih berkarir di Institusi TNI. Bahkan, dia juga pernah berdinas selama 20 tahun itu di Korps Baret Merah atau Kopassus. “Itu betul-betul satuan yang memiliki kehidupan yang keras, dimana saya mau buktikan bahwa sebagai salah seorang Nyong Sulut yang adalah orang Minahasa torang ini bukang cuma ada piara-piara alus” imbuhnya. Pada kesempatan wawancara tersebut, Rano menyampaikan juga kekagumannya terhadap prestasi Audrey yang dapat mengikuti kontes sampai ke tingkat Internasional. Dimulai dari kontes nasional menjadi Miss Indonesia, bahkan akan mewakili Indonesia dalam Miss World di India. Menurutnya ini juga merupakan satu prestasi gemilang yang tidak mudah mendapatkannya, Namun dia mengimbau kepada adik-adik pemuda dan pemudi Sulawesi Utara yang nantinya akan mengikuti kontes pemilihan Nyong-Noni Sulut di tahun-tahun yang akan datang, bahwa mereka itu akan dikaderkan untuk menjadi duta wisata. “Sehingga, sebagai seorang duta wisata hendaknya tugas mereka (Nyong-Noni Sulut, red) nanti adalah mempromosikan potensi-pontensi wisata yang dimiliki oleh Sulawesi Utara,” pungkas Mayjen Rano Tilaar.(alex m)


