MINUT,Radarmanadoonline.com – Kisah anak-anak SD Negeri Airbanua, Kelas Wawonian yang terletak di Pulau Talise, Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 di SD Negeri Airbanua, Kelas Wawonian inipun belajar di satu gedung yang hanya dibatasi sekat tripleks.
Lebih memilukan, anak-anak yang berjumlah 38 orang belajar dengan pakaian seadanya, sebagian bahkan hanya memakai sandal jepit dan ketika hujan turun, lantai tanah berubah becek.

Sayangnya, bangunan sekolah yang seharusnya menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa, justru berdiri rapuh tanpa fondasi.
Dindingnya hanya dari tripleks setengah badan, atap seng bekas, lantai tanah, serta tiang kayu bekas seadanya.
Bangunan berukuran sekitar 5×10 meter dipetak menjadi enam kelas dan satu ruang guru, semuanya menyatu dalam satu bangunan sempit dan dibatasi sekat triplek.
Bahkan, untuk sampai di sekolah darurat ini, para murid harus menempuh perjalanan terjal sejauh satu kilometer, melewati bukit berbatu, kebun, sungai kecil, dan pesisir pantai.

Meski demikian, anak-anak Desa Wawonian tetap semangat belajar.
Senyuman mereka tidak pernah luntur meski kondisi sekolah jauh dari kata layak.
“Sekolah ini dibangun pada akhir Juli 2025 lalu, hanya dalam waktu delapan hari melalui gotong royong orang tua murid dan masyarakat setempat,” ujar Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Airbanua, Kelas Wawonian, Esli Deni Sasongke, Sabtu (23/8/2025).
Kepala SD Negwri Airbanua, Esli Deni Sasongke, mengaku sekolah darurat itu lahir dari keprihatinan mendalam orang tua murid.
“Sejak 2020 anak-anak harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolah induk, jadi pulang pergi bisa enam kilometer. Anak-anak sering kelelahan. Karena itu, atas permintaan orang tua, kami membangun sekolah darurat ini,” ungkap Esli, Sabtu (23/8/2025).

Bahan bangunan sekolah pun sebagian besar berasal dari sisa-sisa material rehabilitasi sekolah induk. Seng, tripleks, dan balok bekas diangkut ke Desa Wawonian, sisanya disumbangkan oleh masyarakat dengan swadaya.
“Bangunan sekolah ini dibangun oleh orang tua murid yang ada, bahkan mereka saling patungan untuk membeli perlengkapan bahan bangunan sekolah agar anak-anak mereka bisa nyaman belajar,” ujar Kepala Sekolah.
Lanjutnya, meski kondisi sekolah seperti itu, setiap kelas dibatasi sekat triplek, kami terus berusaha memohon ini menjadi perhatian pemerintah.
“Semangat orang tua murid sungguh kompak, karena mereka berpatungan untuk membeli bahan bangunan, bahkan mereka yang kerja membangun bangunan sekolah ini,” tambah kepsek.
Sementara itu, Inrehan Kauling murid kelas 5, SD Negeri Airbanua, Kelas Wawonian berharap, pemerintah bisa memperhatikan sekolah yang mereka cintai ini.
“Mohon pemerintah perhatikan sekolah kami,” harap Inrehan bersama teman-temannya.

Salah satu orang tua murid, Amor Norman, menuturkan bahwa sebelumnya sekolah permanen pernah dibangun di dekat kampung, namun musibah kebakaran membuat bangunan itu hilang.
Sejak saat itu, warga berinisiatif mendirikan sekolah darurat.
“Bangunan ini murni gotong royong. Dalam waktu delapan hari selesai dibangun untuk anak-anak kami. Kami hanya ingin anak-anak tetap bersekolah,” ujarnya.
Orang tua murid dan masyarakat Desa Wawonian berharap pemerintah segera turun tangan memberi perhatian serius.
“Kami ingin anak-anak kami mendapat pendidikan layak demi masa depan mereka. Saat ini kami bahkan masih berusaha membuat sumur bor dan penerangan listrik dengan cara kami sendiri. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Minahasa Utara maupun Provinsi Sulawesi Utara,” harap Amor.






