Hashim bersama Santrawan
JAKARTA – radarmanadoonline.com- Perkara seputar kematian Evia Maria Mangolo yang terkesan lamban terus menjadi sorotan berbagai pihak. Amat terlebih dari praktisi hukum.
” Dugaan jelas mengarah pada belum jelasnya pemicu kematian Evia. Apakah itu bunuh diri atau pembunuhan seyogyanya mesti kelar segera penyelidikannya,” kata Dr Santrawan Paparang SH, MH, MKn.
Menurut pengacara kenamaan Sulut yang berkiprah di Jakarta ini, sebagai warga Nusa Utara cukup prihatin dengan apa yang dialami keluarga besar almarhumah Evia Maria Mangolo di Sitaro.
Makanya meski di Jakarta dia dan beberapa praktisi hukum asal Nusa Utara juga ikut mempertanyakan.
Sebab sudah masuk hampir 1 bulan sepertinya belum ada kejelasan meski spekulasi kematian Evia juga disebut-sebut karena ada sesuatu.
” Ini harus dibuka cepat. Jangan sampai terkesan didiamkan,” kata dosen Hukum Pidana pada Pasca Sarjana di beberapa universitas di Jakarta ini.
Evia Maria sendiri adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano Minahasa. Dia ditemukan meninggal tak wajar di kosnya.di Kelurahan Matani, Kota Tomohon, Selasa (30/12/2025).
Sampai disini Santrawan pun berharap agar kepolisian khususnya Polda Sulut segera menjawab pertanyaan dan opini yang terus berkembang.
” Masalahnya publik bertanya- tanya dan terus menunggu hasil penyelidikan,” katanya.
Pria bersahaja yang merupakan anak dari Jaksa Paparang dan karirnya juga diikuti sang putra kandidat doktor Satrya Etus Paparang SH, MH, MKn dikenal Ketua LBH Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira) sayap Partai Gerindra.
Efek negatif bisa muncul jika hal ini belum tuntas.
” Kasihan keluarga mahasiswi yang tak henti berhenti menunggu agar ada kejelasan. Ya karena ada kejanggalan sehingga semua berharap agar ada kepastian,” tandas Santrawan yang baru saja mendampingi Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo dalam kunjungan ke Medan, Sumut dan Sorong, Papua.
Sementara Hashim Djojohadikusumo yang juga tokoh dibalik berdirinya LBH Gekira, menurut Santrawan, hanya punya waktu sedikit sekembali dari Papua sebab langsung mendampingi sang kakak, Presiden Prabowo dalam lawatan ke Swiss dan Inggris. (ram)



