Advertisement
ManadoSulut

Kekuatan Perempuan dan Bias Gender

Oleh: Dr.dr Theresia Kaunang, Sp.KJ, Subsp.AR (K), CT (Founder Prima Potensi Terpadu-Certified Trainer)

MANADO,Radarmanadoonline.com-Kekuatan perempuan dan bias gender adalah dua hal yang saling berkaitan erat dalam wacana sosial dan kesetaraan. Perempuan memiliki potensi, ketahanan dan kemampuan yang besar, namun seringkali terhambat oleh stereotip dan bias gender yang berakar pada budaya patriarki. Kekuatan senantiasa hadir pada setiap perempuan. Kekuatan perempuan merupakan perpaduan antara kekuatan mental, kecerdasan emosional, empati tinggi, dan kemampuan multitasking yang luar biasa. Perempuan mampu bertahan dalam tekanan berlapis, beradaptasi dengan perubahan dan menggunakan kelembutan sebagai bentuk pengaruh yang kuat untuk membangun keluarga serta masyarakat. Kekuatan dan kepemimpinan perempuan seringkali dibenamkan, padahal perempuan memiliki kekuatan yang bermakna di berbagai bidang yaitu kedokteran/kesehatan, teknologi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Perempuan membuktikan mampu memimpin di sektor IT dan industri lainnya yang didominasi pria. Partisipasi perempuan dalam kegiatan fisik, misalnya olahraga, menunjukkan banyak prestasi perempuan dalam olah raga. Dalam kegiatan sosial, perempuan menunjukkan pemberdayaan komunitas. Kemampuan perempuan ini meningkatkan efikasi diri. Ketahanan mental perempuan adalah kemampuan perempuan untuk bangkit setelah jatuh, tetap tegar dalam situasi sulit dan memiliki empati yang mendalam, menjadikannya penopang emosional yang kuat. Dalam keluarga terbukti perempuan memiliki ketahanan mental, sekalipun senantiasa dalam tekanan ataupun penindasan. Ketahanan mental dan emosional digambarkan sebagai perempuan yang memiliki kemampuan untuk bangkit setelah jatuh, tetap tegar dalam situasi sulit dan memiliki empati yang mendalam, menjadikan penopang emosional yang kuat. Kecerdasan emosional dimiliki oleh perempuan, yaitu kemampuan membaca situasi dan memahami perasaan orang lain, yang memungkinkan perempuan merespons situasi dengan tepat dan bijaksana. Michele Obama mengatakan bahwa sebagai perempuan tidak memiliki batasan untuk meraih sesuatu. Sementara menurut Merry Riana perempuan terlahir dari kekuatan seorang perempuan, seorang perempuan memiliki kekuatan di atas rata-rata dan mampu bertahan serta berjuang. Kemampuan perempuan yang jarang dimiliki laki-laki adalah multitasking; Hal ini disebabkan karena struktur otak dengan corpus callosum yang lebih tebal yaitu sekitar 30% lebih tebal, menghubungkan otak kiri dan otak kanan, memungkinkan pertukaran informasi yang lebih cepat, yang sering dikaitkan dengan kemampuan menangani banyak hal sekaligus. Perempuan memiliki kebiasaan mengelola berbagai peran. Perempuan mengelola berbagai peran dan tugas secara bersamaan, baik di rumah maupun pekerjaan dengan efektif. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih terorganisir dalam situasi kompleks. Perempuan harus kuat karena sering berhadapan dengan persoalan sebagai orang tua tunggal, sandwich generation, penyintas kekerasan. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut terbentuk resiliensi melalui proses kognitif, afektif dan sosial untuk mencapai tujuan dalam hidup. Kekuatan fisik perempuan terselubung, studi menunjukkan wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan daya tahan yang lebih baik dalam kondisi ekstrem dibandingkan pria. Perempuan yang mandiri dan kuat adalah mereka yang ikhlas, bersyukur dan tangguh untuk menata kembali hidupnya dalam situasi apapun. Perempuan mandiri dan kuat adalah sosok yang berdaya secara fisik, mental emosional dan finansial. Perempuan menjadi teladan bagi lingkungan sekitar, terutama bagi anak-anak untuk berani, tangguh dan tidak terbatas oleh stereotip gender. Soft power merupakan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan, suatu kelembutan dan kasih sayang serta ketulusan bukan kelemahan, melainkan kekuatan untuk membangun hubungan, merangkul dan memberikan dampak positif yang menetap. Perempuan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru dan bertahan (kekuatan mental/resiliensi) dalam waktu lama. Kemampuan ini berkaitan dengan adaptabilitas dan ketabahan. Kekuatan wanita sejati adalah kombinasi dari keberanian untuk berjuang, kasih sayang yang tulus dan kebijaksanaan dalam bertindak. Bias gender adalah kecenderungan tidak sadar atau sadar untuk lebih menyukai satu jenis kelamin, yang memicu perlakuan tidak adil, diskriminasi, serta stereotip peran berdasarkan gender. Pandangan atau perlakuan tidak adil berdasarkan jenis kelamin, seringkali berakar dari stereotip tradisional. Bias gender memiliki istilah lain yaitu ketidaksetaraan gender, diskriminasi jenis kelamin, bias implisit, stereotip peran gender, ketimpangan gender. Bias gender merupakan hasil konstruksi sosial. Dalam buku cerita sering menampilkan laki-laki sebagai pemimpin aktif.
Hal ini mencakup marginalisasi, subordinasi dan beban ganda yang merugikan perempuan di tempat kerja atau kehidupan sosial. Bentuk ketidakadilan gender yaitu berupa subordinat (perempuan sering dianggap nomor dua), stereotip/pelabelan (pelabelan negatif yang membatasi peran perempuan), marginalisasi (peminggiran posisi perempuan dalam sektor strategis), beban ganda (tuntutan pekerjaan domestik sekaligus publik), dan kekerasan (kekerasan berbasis gender, KDRT).
Banyak contoh dalam masyarakat berkaitan dengan bias gender misalnya kesenjangan gaji (perempuan dibayar lebih rendah daripada pria untuk posisi dan kualifikasi setara), preferensi rekrutmen pria untuk posisi manajerial, asumsi bahwa perempuan lebih cocok mengurus rumah tangga, hingga anggapan pria tidak cocok bekerja di bidang pengasuhan dan kecantikan. Glass ceiling merupakan penghalang promosi bagi perempuan atau mengganggap pria lebih cocok memimpin. Asumsi bahwa laki-laki lebih layak menjadi pemimpin, sementara perempuan terjebak dalam posisi staf administratif. Penggunaan kata maskulin (tegas, kuat) yang membuat perempuan enggan melamar pekerjaan. Perekrutan manajer lebih memilih kandidat pria karena stereotip bahwa mereka lebih tegas, atau menganggap wanita akan kurang berkompeten karena berpotensi menikah atau hamil. Dalam kehidupan sehari-hari dan dalam rumah tangga/keluarga. Pembagian tugas, mengganggap bahwa pekerjaan domestik (memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak adalah tanggung jawab utama perempuan. Pengasuhan anak dianggap hanya tugas ibu, sehingga membatasi keterlibatan ayah dalam pola asuh. Bahkan latar belakang budaya tertentu, merasa hina jika anak laki-laki mengerjakan pekerjaan perempuan, misalnya memasak atau mencuci piring. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat stereotip nyeri, dimana cenderung dianggap keluhan nyeri kronis dari wanita sebagai “emosional” atau “histeris” dan sering mengganggap bahwa “rasa nyeri“ tersebut merupakan masalah mental daripada masalah fisik. Secara sosial, mengasumsikan bahwa perempuan lebih emosional sementara pria lebih rasional. Dalam dunia pendidikan, terdapat stereotip jurusan pendidikan yaitu anggapan bahwa laki-laki lebih baik di bidang STEM (Science, Technologi, Engineering, Mathematics), sementara perempuan di bidang sosial atau bahasa. Dalam aplikasipun, peran pria digambarkan sebagai programmer dan perempuan sebagai asisten rumah tangga. Kekuatan perempuan terletak pada kemampuan mendobrak batasan gender tradisional dan mengambil posisi kunci dalam pengambilan keputusan serta merupakan agen perubahan dunia. Kesadaran mengenai berbagai aspek yang diperlukan untuk mengatasi bias gender untuk kesetaraan, harus digalakkan karena tidak dapat dipungkiri bahwa secara tradisional orangtua perempuan seringkali tanpa sadar mendukung bias gender tersebut. Menciptakan kesetaraan gender membutuhkan langkah-langkah transformatif. Perempuan harus memperoleh akses pendidikan formal yang setara dan ruang berpolitik, menghapus peran tradisional gender yang membatasi (terjadi perubahan budaya), menghilangkan kesenjangan gender dalam bisnis dan kepemimpinan. Kesetaraan gender penting untuk memberdayakan semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Perbedayaan perempuan bukan hanya mengenai meningkatkan posisi perempuan, tetapi menciptakan dunia yang lebih adil dan produktif bagi semua orang. Mengatasi bias gender berarti memberikan hak, kesetaraan dan kesempatan yang sama di semua bidang kehidupan tanpa batas tradisional. Menurut W.E.B DuBois feminisme bukan mengenai membuat perempuan lebih kuat, perempuan sudah kuat, tetapi ini mengenai cara dunia memandang kekuatan itu. Kesetaraan gender bukanlah persaingan, tetapi perjuangan bersama untuk hak dan keadilan. Perempuan tidak butuh diselamatkan, perempuan butuh kesetaraan. Gaji yang sama, rasa hormat yang sama, hak yang sama. Bukan sebagai objek, tapi sebagai subjek. Men and women in equality, endowed with the same dignity.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button