
MANADO,Radarmanadoonline.com_Pengembangan komoditas kelapa menjadi perhatian Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Dr. Joune Ganda saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa (KOPEK) II 2026 di Courtyard by Marriott Manado Hotel, Rabu (7/10/2026).
Munas KOPEK II 2026 berlangsung dalam rangkaian World Coconut Day 2026. Pembukaan World Coconut Day dijadwalkan berlangsung Kamis (8/10/2026) dan akan dibuka Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
KOPEK terbentuk sejak 27 November 2017 sebagai wadah komunikasi dan kerja sama antarkabupaten yang menjadi sentra produksi kelapa. Hingga kini, lebih dari 200 kabupaten di Indonesia tergabung dalam koalisi tersebut.
Dalam sambutannya mewakili kepala daerah yang hadir, Joune Ganda mengatakan pengembangan komoditas kelapa masih menghadapi sejumlah persoalan. Mulai dari berkurangnya lahan, tenaga pemanjat, regenerasi petani, harga kopra hingga pengolahan hasil.
Ia mencontohkan Minahasa Utara yang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Sulawesi Utara. Namun, perkembangan wilayah ikut membuat lahan kelapa semakin berkurang. Sebagian lahan telah beralih fungsi menjadi kawasan pergudangan, industri dan permukiman.
“Memang menjadi sesuatu yang sangat menarik apabila kita mampu meningkatkan produktivitas lahan yang ada,” ujar Joune Ganda saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Munas KOPEK II 2026.
Menurut Joune, persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah tenaga pemanjat. Sebagian besar tanaman kelapa dalam di Minahasa Utara merupakan tanaman lama yang diwariskan dari orang tua dan telah berusia puluhan tahun.
“Yang kita panen sekarang ini adalah hasil dari warisan orang-orang tua kita yang mungkin sudah di atas 20, 50, 80, bahkan mungkin ada yang 100 tahun,” katanya.
Di sisi lain, tenaga pemanjat kini semakin sulit didapat. Anak-anak muda memiliki pilihan pekerjaan lain, sementara harga kopra yang naik turun turut memengaruhi minat petani untuk memanen.
“Kalau harga jatuh, akhirnya kelapa itu dibiarkan jatuh sendiri. Kalau sudah jatuh sendiri, kualitas dan pemanfaatan dari kelapa itu sendiri makin berkurang,” ungkap Joune.
Menurutnya, kelapa tidak cukup hanya dipanen dan dijual sebagai bahan mentah. Pengolahan hasil, cara panen serta peremajaan tanaman perlu mendapat perhatian agar nilai ekonomi yang diterima petani bisa lebih baik.
Minahasa Utara, lanjut Joune, sudah memiliki sejumlah industri yang memanfaatkan komoditas kelapa. Letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Bitung dan Bandara Sam Ratulangi juga menjadi peluang untuk pengembangan industri sekaligus pemasaran produk.
Ia mengingatkan agar upaya menarik minat generasi muda menjadi petani tidak berhenti sebatas ajakan. Mereka harus melihat sektor pertanian, termasuk kelapa, sebagai pekerjaan yang mampu memberikan penghasilan.
“Kalau mampu menghidupi, saya yakin tidak perlu disuruh, dia pasti akan tanam,” tegasnya.
